09 September 2020, 02:35 WIB

Pasukan India-Tiongkok saling Lepas Tembakan


MI | Internasional

BEIJING menuduh pasukan India telah melanggar perjanjian bilateral dengan melepaskan tembakan peringatan ke udara selama konfrontasi dengan personel Tiongkok di perbatasan yang disengketakan. 

Hal itu meningkatkan ketegangan antara kedua negara Asia tersebut. Zhang Shuili, juru bicara komando barat militer Tiongkok, mengatakan penjaga perbatasan Tiongkok berusaha meredakan konfrontasi dengan India. 

Mereka mengambil tindakan pencegahan untuk menstabilkan situasi. Pernyataan itu tidak menjelaskan tindakan apa atau apakah pasukan Tiongkok juga melepaskan tembakan peringatan.

“Kami meminta India untuk segera menghentikan tindakan berbahaya dan secara ketat menyelidiki serta menghukum personel yang melepaskan tembakan untuk memastikan bahwa insiden serupa tidak terjadi lagi,” kata Zhang, kemarin.

India pun menolak tuduhan itu dan balik menuding bahwa pasukan Tiongkok yang menembak ke udara. “Tentara Tiongkok secara terang-terangan melanggar perjanjian dan melakukan manuver agresif, di saat upaya kesepakatan di tingkat militer, diplomatik dan politik sedang berlangsung,” kata militer India.

India mengatakan tentara Tiongkok mencoba mendekati posisi depan India di sektor Ladakh. Ketika dipergoki, India menyebut tentara Tiongkok lalu menembakkan beberapa peluru ke udara. 


Hindari senjata

Kedua pihak sebelumnya menyatukan siap mematuhi protokol lama untuk menghindari penggunaan senjata api di perbatasan dataran tinggi di Himalaya barat.

Namun, perjanjian itu tidak dapat mencegah adanya korban. Tercatat 20 tentara India tewas dalam pertempuran jarak dekat pada Juni lalu.

Insiden itu lalu menyebabkan Tiongkok dan India mengerahkan pasukan tambahan. Sementara itu, Menteri Pertahanan Wei Fenghe kemarin mengatakan kepada mitranya dari India, Rajnath Singh, bahwa New Delhi memikul tanggung jawab penuh atas ketegangan perbatasan saat ini.

Pembicaraan kedua Menlu di Moskow itu merupakan kontak politik tatap muka tingkat tertinggi sejak ketegangan meletup Mei lalu. (AFP/Van/X-11)

BERITA TERKAIT