09 September 2020, 02:10 WIB

Trump dan Biden saling Serang Jelang Pilpres AS


Faustinus Nua | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump dan saingan Demokrat Joe Biden terus melakukan gesekan retoris satu sama lain pada Senin (7/9) ketika kampanye kepresidenan pada liburan Hari Buruh AS.

Trump mencoba menggambarkan lawannya Biden sebagai ancaman bagi ekonomi dan ‘bodoh’, sementara Biden membidik pada laporan Trump yang meremehkan pasukan militer yang jatuh atau gugur.

Pada konferensi pers Gedung Putih, Trump mengatakan Biden dan pasangannya bukan orang yang kompeten. Bahkan akan mengacam negara pada kehancuran.

“Biden dan pasangannya yang sangat liberal (Senator Kamala Harris), orang paling liberal di Kongres - menurut saya bukan orang yang kompeten, akan menghancurkan negara ini dan akan menghancurkan ekonomi ini,” kata Trump yang juga menyebut Biden ‘bodoh’ sebagai Sleepy Joe.

Trump kemudian membantah laporan di majalah The Atlantic yang memuat dirinya pernah menyebut tentara AS yang jatuh atau gugur sebagai pecundang. Cerita itu pun telah mendominasi liputan berita selama berhari-hari dan mengancam dukungan Trump dari kalangan para veteran dan anggota militer, blok pemungutan suara utama.

“Tidak ada orang yang lebih menghormati tidak hanya militer kami, tetapi untuk orang-orang yang memberikan nyawa mereka di militer,” ucap Trump.

Biden mengutip pernyataan yang dilaporkan saat berkampanye di negara bagian Pennsylvania. Merujuk pada putranya, Beau Biden, yang bertugas di Irak sebagai anggota Garda Nasional Delaware dan meninggal karena kanker otak pada 2015.

“Beau bukanlah pecundang atau bodoh. Dia melayani dengan kepahlawanan,” tuturnya.

Kunjungan Biden ke Pennsylvania pada Senin memulai kesibukan perjalanan ke negara-negara bagian untuk kampanye politik karena persaingan semakin ketat dengan waktu kurang dari 60 hari hingga pemilihan 3 November.

Dengan pandemi virus korona dan kerusuhan sipil atas rasisme dan kebrutalan polisi yang menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir, Biden berusaha mempertahankan keunggulannya. 

Dia menggambarkan presiden Republik sebagai pemimpin tidak efektif yang berkembang dalam kekacauan dan telah meninggalkan kelas pekerja. Trump pun telah berjuang untuk mengubah arah kampanye tentang polarisasi rasial dan ‘hukum dan ketertiban’.

Hal itu dimaksudkan untuk memotivasi basisnya dan menarik pendukung baru di bagian pinggiran kota negara bagian kunci, seperti Pennsylvania, Wisconsin dan Michigan.


Kekerasan rasial

Senin, Biden menuju negara bagian Pennsylvania, tempat dia mengadakan pertemuan jarak jauh dengan para pemimpin serikat sebelum menjawab pertanyaan dari anggota serikat besar AFL-CIO di kantor pusatnya.

Portland, tempat ketegangan memuncak, berada di tepi jurang Senin ketika ratusan pengunjuk rasa pro-Trump beberapa dari mereka bersenjata dan dengan perlengkapan militer berkumpul untuk iring-iringan mobil di sekitar kota, yang telah menyaksikan kerusuhan berbulan-bulan dan dua kematian di antara mereka.

Pengunjuk rasa di kedua sisi. Demonstrasi malam keenam juga diperkirakan terjadi di Kota Rochester, New York, yakni seorang pria kulit hitam dengan masalah psikologis, Daniel Prude, meninggal setelah ditempatkan di tudung dan dipaksa menghadap ke bawah di jalan oleh polisi.

Biden telah mengeluarkan teguran tajam atas kekerasan dan penjarahan yang menyertai beberapa protes, bahkan
ketika mencela rasisme sebagai ‘dosa asal’ negara. (Van/AlJazeera/I-1)
 

BERITA TERKAIT