08 September 2020, 21:00 WIB

Perundungan Jadi Tanggung Jawab Bersama


Rama Fatahillah Yulianto, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM RI | Opini

PERUNDUNGAN merupakan tindakan berupa pengintimidasian, ancaman, penindasan, atau bahkan kekerasan yang ditujukan ke orang-orang tertentu. Biasanya orang melakukan bullying karena mereka pernah diperlakukan hal yang sama, sehingga di lain kesempatan mereka mencari waktu yang tepat yang digunakan untuk melakukan ‘pelampiasan’ atau ‘balas dendam’ kepada orang-orang yang dianggap lemah dan mampu tunduk kepadanya. 

Maka tidak heran jika kekerasan dalam dunia pendidikan terus berlanjut, karena tidak terputusnya rantai bully dan metode pendidikan yang selalu menurunkan hal tersebut, karena dianggapnya semua orang dibawahnya harus merasakan hal yang sama, terlepas dari kedok seperti, agar mental menjadi kuat, terbentuknya tanggung jawab, rasa kepemimpinan dan kebersamaan yang tinggi, dll. Akan tetapi metode seperti  ini dampak buruknya sangat besar, di antaranya korban yang tidak kuat secara kepribadian, mereka akan merasakan stres, depresi, halusinasi, gila, atau bahkan bunuh diri. 

Ini akibat dari gagalnya seseorang mengatasi stres, mereka akan melakukan pertahanan diri yang cenderung ‘abnormal’. Sehingga banyak metode sebenarnya yang dapat dilakukan selain bully untuk membentuk karakter seseorang, terlebih seorang calon tenaga medis, masih banyak hal-hal yang harus mereka pelajari, daripada harus ‘meladeni’ celotehan para seniorya yang menjerumuskan. 

Beberapa hari lalu, masyarakat digegerkan kembali dengan adanya berita seorang dokter muda yang meninggal dunia dengan cara meminum cairan kimia (pembersih lantai). Ada dugaan hal itu dilakukan karena adanya perundungan dari para seniornya. Korban sedang menempuh program pendidikan dokter spesialis (PPDS) bedah plastik di salah satu universitas ternama di Surabaya, dan dia menjalani praktiknya di salah satu rumah sakit yang ada di Surabaya, Jawa Timur. Kerabat korban yang mengungkapkan motif bunuh diri tersebut. 

Benar atau tidak motif tersebut tentulah perlu pendalaman dalam menyelesaikan kasus tersebut. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus lebih peduli dan inovatif lagi dalam menyusun kebijakan pedoman. Pasalnya, kasus perundungan tidak akan ada pernah habisnya jika tak ada regulasi untuk dijadikan pedoman dalam menjalankan metode pendidikan, khususnya di bidang kedokteran ini. 

Profesi tenaga medis sangat berperan di dunia, karena kelak merekalah yang berjuang saat sejumlah masyarakat sedang terinfeksi virus atau bakteri sehingga daya imunnya menurun, mereka yang sanggup dan ahli di bidang kesehatan ini. Jadi, jika menginginkan dokter yang manusiawi, mampu mendengarkan keluhan pasien, dan memiliki empati bahkan simpati yang tinggi, perundungan seperti ini harus dihapuskan. Orang-orang yang menjadi korban tentu nanti bisa mencari pelampiasan atau bahkan balas dendam ke objek yang lain. Dokter, perawat, dan tenaga medis yang lain butuh jiwa yang baik dan tidak mati rasa untuk menjalankan profesi sehari-hari.

Sejumlah masyarakat menjelaskan bahwa melakukan perundungan karena sekadar bercanda. Hanya saja anggapan bercanda ada di pihak pelaku, padahal dalam diri korban begitu tersiksa, dan sedang menghadapi tekanan yang amat berat. Suatu saat jika pertahanan diri korban tidak begitu kuat, bisa saja dia dilakukan hal-hal yang abnormal yang membahayakan hidupnya. Sehingga dengan besarnya dampak dari bully mengharuskan pemerintah memerhatikan suara-suara di masyarakat. 

Tindakan bunuh diri tidak menutup kemungkinan terjadi jika ada pemicu-pemicu dari faktor eksternal seperti faktor lingkungan, sosial, dan ekonomi. Akan tetapi faktor internal juga bisa saja berpengaruh seperti biologis dan psikologis. Faktor lingkungan meliputi kejadian kehidupan, tekanan emosional, poor parenting, abuse, neglect, relasi yang tidak baik, bahkan pengalaman permusuhan. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi kemampuan seseorang mempertahankan diri. 

Selanjutnya, faktor keluarga dan sosial juga dapat berpengaruh di antaranya tumbuh dengan keluarga yang akrab, sehingga seseorang dapat tumbuh dengan kepribadian sehat. Jika sebaliknya, seseorang tumbuh dengan keluarga yang ikatannya kurang baik atau dapat dikatakan buruk, tidak heran seseorang bisa tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Faktor biologis yang berperan mengubah kepribadian seseorang meliputi faktor genetik, parental, toxin, cedera, atau bahkan neurotransmitter. Sehingga adanya permasalahan di otak yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan kejiwaan dan sangat berpeluang untuk melakukan bunuh diri. 

Terlepas akan hal itu, sesuatu memang harus dibuktikan kebenarannya. Kita sebagai masyarakat tidak bisa menilai seseorang tanpa diagnosa yang jelas. Sebagai masyarakat, kita bisa menjadi aktivis untuk menghentikan kasus perundungan di Indonesia. Mulai mencintai diri sendiri dan lebih menjalin keakraban dengan junior, teman sebaya, hingga senior. Seluruh masyarakat memiliki peran penting pada kemajuan bangsa.

BERITA TERKAIT