08 September 2020, 20:05 WIB

Payudara dari Kain Rajut jadi Pilihan Penyintas Kanker


Putri Rosmalia | Weekend

Payudara artifisial atau buatan jadi pilihan bagi penyintas kanker untuk dapat berpenampilan normal seperti semula. Kini semakin banyak tipe payudara buatan yang tersedia di pasaran. Salah satunya ialah yang berasal dari kain atau benang rajutan (knitted knockers).

Knockers adalah rajutan berbentuk payudara artifisial yang lembut, ringan, dan nyaman yang dapat digunakan oleh para penyintas kanker payudara. Knockersbisa langsung digunakan pasca penyintas menjalani dan pulih dari proses masektomi atau pembedahan payudara. Dengan begitu penampilan penyintas akan terlihat normal tanpa perlu menjalani pembedahan untuk rekonstruksi payudara.

Saat ini, PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) berkolaborasi dengan Knitted Knockers Indonesia dan Indonesia Cancer Care Community (ICCC) serta Kitabisa.com meluncurkan Gerakan 1000 knockers yang akan diberikan secara gratis kepada para penyintas kanker payudara di Indonesia. Hal itu dilakukan untuk memperingati Oktober sebagai International breast cancer awareness month atau bulan kepedulian pada kanker payudara internasional.

“Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penunjang payudara,” ujar ahli kesehatan PT Kalbe Farma Tbk, Hastarita, dalam rilis yang diterima, Selasa, (8/9).

Salah satu opsi bagi pasien yang telah terdiagnosis kanker payudara pada stadium tertentu adalah dengan melakukan operasi pengangkatan. Ada dua jenis operasi pengangkatan kanker payudara yaitu mastektomi atau operasi pengangkatan seluruh jaringan payudara, dan lumpektomi yaitu operasi pengangkatan kanker atau jaringan abnormal pada payudara dengan menyisakan jaringan sehat.

Adapun KKI ialah perkumpulan relawan perajut payudara artifisial Indonesia yang berdiri pada 2018. Rajutan payudara artifisial tersebut kemudian mereka bagikan secara gratis kepada para wanita yang telah menjalankan mastektomi/lumpektomi payudara. 

Menurut data Global Cancer Observatory 2018 dari World Health Organization (WHO), kasus kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia adalah kanker payudara, yaitu dengan jumlah 58.256 kasus atau 16,7% dari total 348.809 kasus kanker. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui Riskedas 2018 menyatakan bahwa tingginya angka kanker payudara di Indonesia mencapai 42,1 orang per 100 ribu penduduk dengan rata-rata kematian akibat kanker ini mencapai 17 orang per 100 ribu penduduk.

Melihat data tersebut, diperlukan upaya pencegahan berupa deteksi dini untuk perempuan usia 30-50 tahun, sehingga dapat meminimalisir terjadinya kanker payudara pada perempuan, khususnya di Indonesia. Deteksi Dini Kanker Payudara dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu SADARI (perikSA payuDAra SendiRI) dan SADANIS (perikSA payuDAra kliNIS) melalui pemeriksaan USG atau Mamografi. (RO/M-2) 

BERITA TERKAIT