08 September 2020, 17:55 WIB

Sudah Ngebor 150 Meter, Warga Desa Wolonwalu Gagal Dapat Air


Gabriel Langga | Nusantara

PENANTIAN lama warga Desa Wolonwalu, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka untuk menikmati air bersih belum terujud. Pasalnya, pengeboran air tanah oleh Proyek Pengembangan Air Tanah (P2AT) Provinsi Nusa Tenggara Timur hingga 150 meter tidak ditemukan sumber air. Warga setempat harus bersabar menikmati air bersih.

Kepala Desa Wolonwalu Inosensia kepada mediaindonesia.com, Selasa (8/9) mengatakan, usulan pengeboran air sudah diajukan sejak tahun 2017. Namun, baru terealisasi pada 2019 dan P2AT Provinsi NTT menyatakan bahwa kampung Orin Belan yang berada di Desa Wolonwalu ditemukan sumber air.

"Pihak P2AT terlebih dahulu melakukan survei dan menyatakan di tempat itu (Orin Belan) bisa mendapatkan air sehingga pada bulan Agustus 2020 kemarin, pihak dari P2AT melakukan pengeboran air. Tetapi ternyata tidak bisa
ditemukan sumber air. Padahal kedalaman sudah mencapai 150 meter, tetapi tetap saja tidak ada airnya," papar Inosensia.

Dirinya mengaku kecewa dengan pihak P2AT Provinsi NTT. Pasalnya, sejak dari awal mengapa pihak P2AT menyatakan bahwa lokasi tersebut ada sumber air. Namun kenyataannya, usai dibor oleh pihak P2AT Provinsi NTT justru tidak mendapatkan air.

"Kalau memang disitu tidak dapat air, kenapa dari awal P2AT survey bilang ada air. Sampai anggaran negara dipersiapkan untuk masyarakat Wolonwalu yang selama ini tidak ada air. P2AT kan yang menyatakan di lokasi tersebut ada air berdasarkan hasil survey. Tapi nyatanya tidak air," ungkap Inosensia kecewa.

Salah satu warga Desa Wolonwalu, Mateus Nong Rombin mengaku kecewa dengan hasil kerja P2AT Provinsi NTT yang pulang meninggalkan Desa Wolonwalu tanpa mendapatkan air. Padahal, warga sudah begitu menaruh harapan untuk menikmati air dari sumur bor.

Ia menceritakan, untuk menikmati air bersih warga Desa Wolonwalu harus membeli air tangki yang dijual oleh BumDes Desa Wolonwalu seharga Rp250 ribu per tangki. Sedangkan kalau membeli dari mobil tangki umum seharga Rp300 ribu  hingga Rp350 ribu.

"Sebagai masyarakat kami sangat kecewa, air yang kami tunggu-tunggu tidak keluar. Sekarang hanya tinggalkan bekas galian dan batu pilar penanda. Padahal untuk sumur bor warga sudah korbankan kumpul dana untuk pembebasan
lahan dan upacara adat," pungkas Mateus Nong Rombin.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Air Baku dan Air Tanah Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pahlawan Perang saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (8/9) mengatakan pengeboran
air tanah yang ada di Desa Wolonwalu itu merupakan proyek swakelola berdasarkan permintaan dari masyarakat melalui proposal yang dikirim ke pihak P2AT Provinsi NTT.

Ia mengatakan sebelum melakukan pengeboran air, pihaknya sudah melakukan survey geolistrik. Namun ia menjelaskan, survei geolistrik ini hanya mendeteksi ada potensi air tanah bukan berarti langsung ada air.

Baca Juga: Wakil Bupati Agam Diduga Tertular Covid-19 di Pesawat

"Setelah dilakukan survey geolistrik lokasi itu ada potensi air tanah. Tapi kenyataannya setelah dilakukan pengeboran kedalaman 150 meter tidak mendapatkan air. Memang lokasi itu tidak ada air. Survey geolistrik itu bukan berarti harus ada air, itu hanya mendeteksi saja. Jadi kalau tidak ada air, harus pindah lagi lokasinya untuk pengeboran," papar Pahlawan Perang

Disampaikan dia pengeboran air yang dilakukan di Desa Wolonwalu itu merupakan pekerjaan swakelola bukan pekerjaan berdasarkan kontrak kerja. Ia mengaku kejadian tidak mendapatkan air setelah dilakukan pengeboran air
bukan hanya terjadi di Kabupaten Sikka, namun juga terjadi di beberapa wilayah di NTT yang dilakukan oleh pihak P2AT Provinsi NTT.

"Kita sudah sering temukan di lapangan. Saat dilakukan survei geolistrik ada potensi air. Tapi saat dilakukan pengeboran malah tidak ada air, berarti lokasi itu memang tidak ada air," ujar Pahlawan Perang. (OL-13)

BERITA TERKAIT