08 September 2020, 18:35 WIB

Minat Baca Naik, Buku Sastra paling Favorit


Bagus Pradana | Weekend

Dalam peringatan Hari Aksara Internasional tahun ini, Pustakawan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) , Suharyanto Mallawa, cukup optimistis dengan peningkatan minat baca masyarakat Indonesia selama masa pandemi covid 19 ini. Meskipun ia juga tak menampik bahwa masih ada beberapa permasalahan klasik yang belum terselesaikan di beberapa wilayah Indonesia seperti ketersediaan bahan bacaan yang tidak merata dan verifikasi informasi yang masih minim saat mengunakan media sosial dan berbagai platform daring lainnya.

Dalam diskusi dari daring yang diselenggarakan oleh penerbit Buku Erlangga (8/9), Suharyanto juga membagikan tiga buah kiat-kiat untuk meningkatan minat baca masyarakat Indonesia.

"Semua mempunyai peran untuk meningkatkan minat baca di masyarakat, kalau saya punya tiga prinsip untuk meningkatkan minat baca di masyarakat, yaitu 'baca', 'tulis', dan 'dipublikasikan'. Jadi jangan hanya berhenti di membaca saja nih, ketika kita sudah biasa membaca, mulai dituliskan, setelah dituliskan, mulai disebarluaskan atau dipublikasikan," ujar Suharyanto Mallawa.

Suharyanto juga memaparkan hasil survei berkala terkait persentase minat baca masyarakat Indonesia yang dilakukan Perpusnas.

Merujuk hasil survei minat baca tersebut, dalam dua tahun terakhir (2018-2019) Perpusnas mencatat bahwa terdapat peningkatan yang cukup signifikan terkait minat baca masyarakat Indonesia bila dibandingkan dengan 2017, dari rata-rata sebelumnya yang hanya berkisar pada 36,48 persen (2017) meningkat menjadi 52.92 persen (2018) dan 53.84 persen (2019).

Berbekal hasil survei tersebut pihaknya pun optimistis jika tahun ini, minat baca masyarakat Indonesia masih akan menunjukan tren peningkatan. Terlebih dengan perubahan kebiasaan masyarakat dalam berinteraksi selama masa pandemi, kini masyarakat lebih memilih interaksi daring daripada tatap muka konvensional.

Namun, peningkatan tersebut menurutnya masih menyisakan permasalahan literasi klasik, seperti ketersediaan bahan bacaan yang masih minim, serta akses informasi yang masih terbatas, bahkan kadang belum tersedia di beberapa daerah di Indonesia.

"Dari hasil kajian 2019 ini, Provinsi DI Yogyakarta itu merupakan daerah dengan minat baca yang sangat tinggi, nilainya mencapai 63,02 persen. Kemudian yang terendah ada di Maluku Utara dengan nilai 45,52 persen, jadi kalau untuk yang terendah ini faktornya banyak mulai dari belum tersedianya bahan bacaan dan minimnya informasi yang masuk ke daerah tersebut," jelas Pustakawan Perpusnas tersebut.

Berkaitan dengan pilihan topik bacaan yang banyak dirujuk oleh masyarakat, dari survei tersebut Suharyanto melaporkan jika pilihan topik tentang buku bacaan sastra masih menjadi topik yang paling favorit di Indonesia, diikuti oleh topik agama dan seni-olahraga.

"Terkait pilihan topiknya itu, topik sastra itu yang paling favorit 58 persen, lalu diikuti topik agama 29 persen, topik kesenian dan olahraga 29 persen, dan diluar topik itu ada 8 sampai 11 persen. Jadi sastra masih paling banyak diminati," sambung Suharyanto.

Ia uga menjelaskan beberapa kebijakan Perpusnas selama pandemi covid 19 ini, optimalisasi pelayanan daring merupakan terobosan kebijakan yang diupayakan Perpusnas untuk tetap menyediakan sumber referensi pada masyarakat Indonesia selama masa pandemi.

Bagi para pengunjung yang tidak dapat berkunjung ke Perpusnas selama masa pandemi ini, dapat mengakses koleksi buku dan berbagai macam sumber bacaan lain di Perpusnas melalui aplikasi 'iPusnas'.

"Itu bisa di-download di playstore dan para pengunjung yang ingin membaca bisa lihat berbagai macam buku di sana gratis," pungkasnya. (M-2) 

 

BERITA TERKAIT