08 September 2020, 14:15 WIB

Kembalinya DNA Bangsa Indonesia di Tengah Pandemi


Mediaindonesia.com | Humaniora

PANDEMI covid-19 merupakan bencana nonalam yang telah memporakporandakan perekonomian.  Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan sehingga angka  kemiskinan merosot  kembali  ke dua digit. Penerapan  protokol  Kesehatan  pun  masih  sulit  terapkan  dalam  kehidupan sehari-hari. Hal itu terlihat di lingkungan sekitar kita dengan masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker.

Pandemi ini memang mempengaruhi kehidupan seluruh masyarakat, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh  dunia. Penerapan  gaya  hidup  baru bukan  hal  yang  mudah  dijalani,  semua  dituntut melakukan  perubahan  untuk  melaksanakan  protokol  kesehatan  dan  tetap  produktif.  

Baca juga: Beragam Bentuk Gotong Royong Warga Hadapi Korona

Kendati tidak besar, penerapan gaya hidup baru telah menggeliatkan perekonomian. Selain itu untu memutus mata rantai penyebaran covid-10 pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Butuh dukungan dari semua elemen masyarakat agar Indonesia bisa melewati pandemi covid-19 dan bangkit lagi dari keterpurukan.

Menurut ekonom  Indonesia  Prof.  Dr.  Sri  Adiningsih, dalam keterpurukan ini, ternyata pandemi membangkitkan semangat gotong royong yang telah menjadi  DNA  bangsa  ini.  "Peran  masyarakat,  dunia  usaha,  LSM,  akademisi,  semua  pemangku kepentingan   diperlukan   untuk   memulihkan   kehidupan   masyarakat. Untuk itu kita perlu memperkuat  semangat  gotong  royong  untuk  mengatasi  pandemi,  seperti semangat  Gerakan Pakai Masker, Lindungi Kamu dan Aku," ujar Prof Sri webinar  yang  bertajuk  'Gotong  Royong  lewati  krisis. Mengkapitalisasi Solidaritas Sosial di Tengah Pandemi' pada Senin (7/9).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum GPM Sigit Pramono menyebut saat ini ada perubahan sosial yang terjadi akibat pandemi,  yaitu  munculnya  solidaritas  sosial,  pemanfaatan  media  digital  yang  meningkat, masyarakat lebih banyak tinggal di rumah serta adanya pergeseran pemenuhan kebutuhan.

Pihaknya menyadari pemerintah tidak mungkin dapat bekerja sendiri menangani permasalahan pandemi.  Selain  GPM,  banyak  Gerakan  Masyarakat  Peduli  Sesama (GPMS)  yang  turut  aktif  membantu  pemerintah  mengatasi  masalah  sosial  ekonomi  di Indonesia,  seperti  Muhammadiyah,  Rumah  Zakat,  Gerakan  Kemanusiaan  Sambatan Jogja (Sonjo) maupun BenihBaik.

Sementara itu, Presiden  Direktur PaninBank Herwidayatmo  menyampaikan apresiasinya  atas  GMPS  yang  ada  saat  ini.  Peranan  maupun  dukungan  semua lembaga itu akan sangat membantu pemerintah. "Karena itu sekarang saatnya semua pihak untuk bersatu," ujarnya

"Dilema yang terjadi saat ini adalah penderita covid-19 makin meningkat, namun, tenaga medis yang ada banyak berguguran karena terpapar covid-19.   Belum lagi, dilema dana APBN pemerintah yang  telah  digelontorkan,  sampai  kapan  dapat menopang  keadaan," tambah founder benihbaik.com, Andy F Noya dalam kesempatan yang sama.

Indonesia, kata Andy,  memiliki  modal  utama  untuk  memutus  penyebaran  covid-19  yang  membuat  kita semua  bersemangat,  karena  kita  memilik  social  capital  yang  tinggi  dibanding  dengan  negara-negara lainnya, serta diakui sebagai bangsa paling dermawan. Hal tersebut tercermin dari posisi Indonesia  pada  peringkat  negara  paling  dermawan  pada 2018, yang  dikeluarkan  dari  British  Charity,  Charities  Aid  Foundation.

“Di  tengah  situasi  seperti  ini,  dengan  adanya kebangkitan dari semangat gotong royong, mudah-mudahan hal ini merupakan momentum yang bukan  saja  momentum  untuk  bergotong  royong  untuk  saling  membantu  mengatasi  pandemi
covid. Tapi, ini adalah salah satu momentum untuk merekatkan kembali, masyarakat Indonesia yang sempat terpecah-pecah, dansekarang dipersatukan kembali sebagai bangsa,” tutur Andy.

Senada, CEO  Rumah  Zakat  Nur  Efendi, meyakini Indonesia bisa survive. “Kuncinya ada di kolaborasi dan gotong royong,” katanya. Rumah Zakat sendiri fokus pada 4 program, baik program jangka pendek maupun jangka panjang untuk  memutus  penyebaran  covid-19.  Yang  pertama  adalah  sosialisasi  dan  edukasi;  bantuan kesehatan; jaminan sosial; dan program ekonomi serta ketahanan pangan.

Ketua MCC Muhammadiyah, Drs. M. Agus Syamsudin, MM juga menjelaskan bagaimana peran Muhammadiyah memutus penyebaran covid-19 dengan membentuk MCC di tingkat wilayah dan cabang  yang  bertugas mengkoordasi  semua  persyarikatan  sehingga  satu  komando  dalam penanganan covid. Salah satu langkah kuratif yang telah dilakukan oleh MCC adalah mensuplai APD ke rumah sakit yang   menjadi   unit   usaha   Muhammadiyah.   Selain   itu,   ada   divisi   pencegahan,   yang   terus mengkampayekan edukasi dan sosialisasi mengenai protokol kesehatan melalui media TV, Radio, seminar, dan lain-lain.

Founder  Gerakan  Kemanusiaan  Sonjo (Sambatan  Jogja),  Rimawan  Pradiptyo,  Ph.D mengaku terus menggelorakan semangat kemanusiaan yang berfokus pada tiga bidang utama yaitu, kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT