08 September 2020, 13:30 WIB

Dekranas Ajak Pelaku UMKM Eksis di Tengah Pandemi Covid-19


Despian Nurhidayat | Ekonomi

DEWAN Kerajinan Nasional (Dekranas) memotivasi para pelaku UMKM untuk eksis dan mampu beradaptasi di masa pandemi Covid-19. Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas Suzana Teten Masduki mengatakan keadaan sekarang ini memberikan dampak yang luar biasa bagi para pelaku usaha dan pengrajin di masa PSBB, sementara adaptasi baru itu tidak mudah.

"Saya paham betul dan merasakan, karena saya juga pelaku usaha kecil. Dalam hal ini, kita juga patut mengapresiasi kerja keras pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, karena dapat memberikan peluang, yang seharusnya segera kita tangkap; sebagai pelaku usaha yang punya kemampuan adaptif,” ungkapnya dilansir dari keterangan resmi, Selasa (8/9).

Baca juga: Rupiah Melemah Dipengaruhi Oleh Memanasnya Hubungan AS-Tiongkok

Lebih lanjut, Suzana menambahkan, bahwa pemerintah juga saat ini tengah menggulirkan program dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sekitar Rp123,46 trilliun yang digelontorkan untuk Koperasi dan UMKM.

Selain itu, dalam menghadapi pandemi ini, telah disalurkan pula Banpres Produktif untuk Usaha Mikro sebesar Rp2,4 juta untuk 12 juta Usaha Mikro. Banpres Produktif ini merupakan bantuan dana hibah, bukan pinjaman atau agunan, untuk membantu para pengusaha terdampak pandemi, agar dapat kembali menggeliatkan semangat usaha.

"Mungkin mohon bantuannya kepada Kepala Dinas Koperasi dan UKM di sini (Lombok), agar bisa membantu mengoptimalkan informasi ini kepada para pelaku usaha," ujar Suzana.

Suzana menambahkan, dalam kesempatan ini Dekranasda dan Dekranas Pusat sebenarnya saling bergandengan tangan, tidak terlepas hanya karena perbedaan tingkat nasional dan di tingkat daerah. Kerja sama dengan Kemenkop UKM dalam mengakselerasi pemulihan usaha juga dikatakan perlu ditingkatkan.

"Mungkin ada satu atau dua unit usaha yang dapat menjadi contoh, yang memiliki kekuatan dalam memanfaatkan kolaborasi ini sebagai alat ungkit untuk dapat meningkatkan pemberdayaan UMKM," lanjutnya.

Selain itu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki juga dikatakan telah mengarahkan agar UMKM, terutama para perempuan pelaku usaha, terhimpun dan berorganisasi dalam sebuah koperasi, yang secara teknis akan lebih memudahkan.

"Secara manajerial pembiayaan, branding produk, dan hal-hal teknis lain, para pelaku usaha akan dimudahkan bila berorganisasi dalam koperasi,“ kata Suzana.

Dekranas dan Dekranasda saat ini mendapat dukungan dari 11 kementerian, karena adanya perubahan anggaran dasar tahun ini untuk pelaku UMKM.

"Saya berharap kepada para peserta pelatihan vokasional dan kewirausahaan yang digelar oleh Dekranas dan Dekranasda, agar dimanfaatkan betul semaksimal mungkin apa yang diberikan ataupun difasilitasi, agar dapat mencapai target atau memperbaiki usaha Bapak dan Ibu," tandasnya dalam memotivasi pelaku UMKM se-Provinsi NTB.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dekranasda Provinsi NTB, Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah menyampaikan terima kasihnya, karena NTB berhasil menjadi salah satu provinsi terpilih untuk pelatihan vokasional Dekranas. Terpilihnya NTB, khususnya Kabupaten Lombok Tengah, ujarnya, tidak terlepas dari 5 destinasi prioritas wilayah Republik Indonesia.

"Ini kesempatan yang baik dan luar biasa yang menjadi oase di tengah kegalauan kita yang terdampak pandemi covid-19," ucap Niken.

Adanya kerja sama antara Kemenkop UKM dengan Dekranas ini merupakan contoh baik bagi Dekranasda provinsi maupun Dekranasda kabupaten/kota untuk terus membangun sinergitas yang produktif dengan unsur-unsur terkait.

Dalam pelatihan yang diadakan di Lombok ini juga para pengrajin dan UMKM mendapatkan pelatihan untuk siap dan layak memasukkan produk-produknya ke LKPP atau e-katalog.

“Provinsi Nusa Tenggara Barat juga telah melakukan kegiatan serupa. UMKM saat ini sangat tergantung pada belanja pemerintah, sehingga adanya kesempatan seperti ini sungguh menjadi sebuah kesempatan yang sangat kita tunggu-tunggu,“ paparnya.

Dalam kesempatan tersebut juga diberikan pelatihan vokasional tenun yang menggunakan bahan alami.

Myra Widiono, instruktur vokasional yang juga Ketua Persatuan Warna Alam Indonesia (Warlami) menyampaikan bahwa kain tenun dengan pewarna alami sangat berpotensi memenuhi permintaan pasar di dalam dan luar negeri.

"Permintaan kerajinan kain tenun di pasar luar negeri cukup bagus, tapi pembeli memang cenderung mencari yang menggunakan pewarna alami," ujar Myra.

Lagi pula, bahan baku perwarna alam mudah didapatkan di NTB, seperti kayu teggeran, kulit mahoni, kayu secang dan akar mengkudu.

"Tenun dengan pewarna alam ini harus dijaga, karena ini merupakan warisan budaya," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT