08 September 2020, 11:18 WIB

Trump dan Biden Saling Serang Jelang Pilpres AS


Faustinus Nua | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan saingan dari Partai Demokrat Joe Biden terus melakukan gesekan retoris satu sama lain pada Senin (7/9) ketika kampanye kepresidenan memasuki homestretch tradisional pada liburan Hari Buruh AS.

Trump mencoba menggambarkan lawannya Biden sebagai ancaman bagi ekonomi dan "bodoh". Sementara Biden membidik laporan yang menyebut Trump meremehkan pasukan militer yang gugur.

Pada konferensi pers di Gedung Putih, Trump mengatakan Biden dan pasangannya bukan orang yang kompeten. Bahkan akan membawa negara pada kehancuran.

Baca juga: Trump Tuduh Harris dan Biden Bermain Politik dengan Vaksin

"Biden dan pasangannya yang sangat liberal (Senator Kamala Harris), orang paling liberal di Kongres - menurut saya bukan orang yang kompeten, akan menghancurkan negara ini dan akan menghancurkan ekonomi ini," kata Trump yang juga menyebut Biden "bodoh" sebagai "Sleepy Joe".

Trump kemudian membantah laporan di majalah The Atlantic yang memuat dirinya pernah menyebut tentara AS yang gugur sebagai pecundang. Cerita itu pun telah mendominasi liputan berita selama berhari-hari dan mengancam dukungan Trump dari kalangan para veteran dan anggota militer, blok pemungutan suara utama.

"Tidak ada orang yang lebih menghormati tidak hanya militer kami, tetapi untuk orang-orang yang memberikan nyawa mereka di militer," ucap Trump.

Biden mengutip pernyataan yang dilaporkan saat berkampanye di negara bagian Pennsylvania. Merujuk pada putranya, Beau Biden, yang bertugas di Irak sebagai anggota Garda Nasional Delaware dan meninggal karena kanker otak pada 2015.

"Beau bukanlah pecundang atau bodoh. Dia melayani dengan kepahlawanan," tuturnya.

Kunjungan Biden ke Pennsylvania pada Senin (7/9) memulai kesibukan perjalanan ke negara-negara bagian untuk kampanye politik karena persaingan semakin ketat dengan waktu kurang dari 60 hari hingga pemilihan 3 November.

Dengan pandemi covid-19 dan kerusuhan sipil atas rasisme dan kebrutalan polisi yang menjadi perhatian dalam beberapa bulan terakhir, Biden berusaha mempertahankan keunggulannya.

Dia menggambarkan Trump sebagai pemimpin tidak efektif yang berkembang dalam kekacauan dan telah meninggalkan kelas pekerja.

Trump sendiri telah berjuang untuk mengubah arah kampanye tentang polarisasi rasial dan 'hukum dan ketertiban'. Hal itu dimaksudkan untuk memotivasi basisnya dan menarik pendukung baru di bagian pinggiran kota negara bagian kunci, seperti Pennsylvania, Wisconsin dan Michigan. (AlJazeera/OL-1)

BERITA TERKAIT