08 September 2020, 04:50 WIB

Tes PCR belum Merata


Dhika Kusuma Winata | Humaniora

HINGGA 7 September 2020, Indonesia baru melakukan 2.433.752 tes usap (PCR) spesimen covid-19 dari total jumlah penduduk sebanyak 274.053.195 orang. Angka itu jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang berpenduduk banyak.

Minimnya pemeriksaan tes PCR covid-19 dituding menjadi salah satu biang keladi terus meningginya kasus covid-19 di Indonesia. Presiden Joko Widodo pun menyoroti minimnya pengujian tes usap ini.

“Untuk urusan tes ini, saya minta Kementerian Kesehatan dibuat desain, perencanaan yang baik. Saya lihat ada provinsi yang sudah melakukan testingnya tinggi sekali dan ada provinsi yang testingnya masih rendah sekali,” ucap Presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna Penanganan Kesehatan dan Pemulihan Ekonomi di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Ya, selain minim, Presiden juga melihat bahwa pengujian PCR covid-19 tidak merata alias timpang. Padahal, pengujian yang merata penting untuk mengetahui data dan tren kasus positif di daerah-daerah.

“Perencanaan itu kita perlukan sehingga kelihatan nanti kasus-kasus positif ini berada di wilayah atau provinsi yang mana,” ujarnya.

Dalam desain pemeriksaan uji PCR nanti, Presiden juga meminta agar strategi pengujian yang berkaitan dengan jejaring laboratorium diperbaiki sehingga distribusi alat material kesehatan bisa merata.

“Jadi, desain perencanaan harus betul-betul komprehensif menyangkut berapa jumlah laboratorim yang ada di sebuah provinsi, berapa reagen yang harus terdistribusi di sebuah provinsi. Strategi jejaring laboratorium ini penting, bukan berdasarkan wilayah administrasi, tapi sekali lagi desain untuk perencanaan harus betul-betul ada dan disiapkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan masyarakat masih kesulitan untuk melakukan tes PCR lantaran tarif yang mahal di atas Rp 2,5 juta oleh rumah sakit. “Padahal harga rutin atau harga yang bisa kita lihat sebenarnya tidak akan lebih dari Rp500 ribu per pemeriksaan spesimen,” kata Doni dalam rapat kerja dengan Komisi VIII di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9).


Paling agresif

Dari data Kemenkes yang didapat Media Indonesia terlihat bahwa Provinsi DKI Jakarta paling agresif, berada di urutan teratas dalam hal banyaknya pengujian spesimen covid-19 pada Minggu IV Agustus 2020, yakni sebanyak 3.055 orang.

Disusul Sumatra Barat 2.296, Kalimantan Timur 1.599, Sulawesi Utara 1.418, dan DI Yogyakarta 1.387.

Sebaliknya provinsi yang paling sedikit melakukan tes PCR covid-19 ialah Sulawesi Barat 16 orang, Sulawesi Tenggara 23 orang, Nusa Tenggara Timur 40, Kalimantan Barat 45, Lampung 50, dan Bengkulu 51.

Dalam buku berjudul Pengalaman Indonesia dalam Menangani Wabah Covid-19 yang di tulis Profesor Fatma Lestari MSi, PhD bersama kawankawan, Jakarta dianggap paling siap berhadapan dengan pandemi covid-19 karena kemampuan tes PCR yang tinggi.

Fatma mengatakan ada lebih dari 40 ribu warga DKI Jakarta yang menjalani pemeriksaan PCR tiap minggunya. Angka ini empat kali lipat lebih banyak daripada yang diminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 1 orang per 1.000 penduduk per minggu. (H-2)

BERITA TERKAIT