08 September 2020, 05:05 WIB

Pupuk Dikurangi, Petani Kelabakan


(CS/DW/N-3) | Nusantara

KUSNADI kelimpungan. Petani asal Kecamatan Pedes, Karawang, Jawa Barat, itu sudah mendatangi sejumlah agen pupuk. Hasilnya, mereka tidak memiliki lagi pupuk subsidi. Yang
ada hanya pupuk nonsubsidi dengan harga Rp650 ribu per 100 kilogram. “Saya terpaksa membeli karena padi yang saya tanam sudah berumur satu bulan dan butuh pupuk. Memang
rugi besar karena biasanya saya menebus pupuk subsidi dengan harga Rp190 ribu per 100 kilogram,” keluhnya.

Abdul Hamid, petani lain asal Kecamatan Jayakerta, memilih pasrah. “Saya sudah mencari urea dan TSP, tapi kios-kios mengaku belum ada kiriman.” Kabid Sarana Pertanian Entoh
Hendra Permana mengakui banyak petani di Karawang mengeluh karena pupuk bersubsidi langka. “Karawang kekurangan pupuk bersubsidi. Dari kebutuhan 52 ribu ton, kuota yang didapat hanya 38 ribu ton.”

Jumlah itu harus disebar untuk 66 ribu petani dan penggarap. Rata-rata petani dan penggarap memiliki luas sawah kurang dari 2 hektare. Selain karena pengurangan kuota, jadwal tanam maju dan berbarengan. “Kebutuhan sampai Desember mencapai 11 ribu-12 ribu ton.” Di sisi lain, Gubernur Sumatra Selatan Herman terus optimistis daerahnya akan
menjadi lumbung pangan.

“Pertanian itu andalan Sumsel. Karena itu, kami terus menggenjot pengembangan lahan pertanian sehingga produksi bisa meningkat.” Mantan Bupati Ogan Komering Ulur Timur itu sudah menancapkan cita-cita membawa Sumsel sebagai lumbung pangan nasional. Kemarin, saat melakukan panen padi sawah di Ogan Komering Ulu, ia menunjuk daerah itu
berpotensi menjadi lumbung pangan.

“Keberhasilan pertanian di lahan yang ada irigasinya tentu itu hal biasa. Tapi, jika panen di wilayah bukan irigasi teknis, dengan hasil besar, itu yang luar biasa,” tandasnya.
Luas lahan pertanian di kabupaten ini mencapai 3.387 hektare. Meski tidak terhitung luas, hasil panen petani bisa mencukupi kebutuhan pangan di wilayah sendiri.

Namun, Herman Deru yakin Ogan Komering Ulu bisa meningkatkan hasil pertaniannya. “Petani di daerah ini tidak boleh hanya menjadi buruh di lahannya sendiri. Pemprov
akan mengangkat 1.000 penyuluh pertanian pada 2021 untuk mendampingi petani di seluruh kabupaten, sampai ke desa-desa,” tegasnya. (CS/DW/N-3)

BERITA TERKAIT