08 September 2020, 02:45 WIB

Saudi Minta AS Beri Solusi Adil bagi Palestina


MI | Internasional

RAJA Arab Saudi Salman bin Abdulaziz mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa negara Teluk ingin melihat solusi yang adil dan permanen untuk masalah Palestina yang merupakan titik awal untuk Prakarsa Perdamaian Arab 2002.

Seperti yang dilapotkan kantor berita kerajaan, pada Senin (7/9), kedua pria itu berbicara melalui telepon menyusul kesepakatan yang ditengahi AS pada bulan lalu untuk hubungan Uni Emirat Arab-Israel. 

UEA setuju untuk menjadi negara Arab ketiga setelah Mesir dan Yordania untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Raja Salman mengatakan kepada Trump bahwa dia menghargai upaya AS untuk mendukung perdamaian, dan Arab Saudi ingin melihat solusi yang adil serta permanen untuk masalah Palestina berdasarkan Inisiatif Perdamaian Arab. 

Di bawah proposal tersebut, negara-negara Arab telah menawarkan hubungan normalisasi Israel dengan imbalan kesepakatan kenegaraan dengan Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah yang direbut dalam perang Timur Tengah 1967.

Arab Saudi, tempat kelahiran Islam dan situs sejumlah tempat paling suci, tidak meng akui Israel. Namun, bulan ini kerajaan mengatakan akan mengizinkan penerbangan antara UEA dan Israel, termasuk dengan pesawat Israel, untuk menggunakan wilayah udaranya.

Masalah Palestina, Menantu Trump, Jared Kushner, yang juga penasihat Gedung Putih, mengatakan dia berharap negara Arab lain menormalkan hubungan dalam beberapa bulan. Tidak ada negara Arab lain yang mengatakan sejauh ini mempertimbangkan untuk mengikuti UEA.

Putra Raja Salman, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dan Kushner membahas perlunya Palestina dan Israel untuk melanjutkan negosiasi dan mencapai perdamaian abadi setelah Kushner mengunjungi UEA pada bulan lalu.  Kesepakatan UEA-Israel disambut oposisi yang luar biasa di antara warga Palestina yang telah mengutuk langkah tersebut sebagai ‘tikaman di belakang’.

Pada Minggu, para pemimpin gerakan Hizbullah Libanon dan kelompok Hamas Palestina bertemu untuk membahas dorongan AS untuk normalisasi diplomatik. Kepala Hamas Ismail Haniyah dan kepala gerakan Syiah Hizbullah yang didukung Iran, Hassan Nasrallah, menekankan stabilitas dari poros perlawanan terhadap Israel.

Hamas mengumumkan pada pekan lalu mediator internasional telah menjadi perantara serangkaian ‘pemahaman’ baru dengan Israel, menghentikan putaran terakhir pertempuran untuk sementara waktu dengan imbalan pelonggaran pembatasan Israel di Jalur Gaza. (Van/Hym/AlJazeera/Arabnews/I-1)

BERITA TERKAIT