07 September 2020, 22:25 WIB

Modul Revolusi Mental untuk Remaja di Lembata Disiapkan


Alexander P. Taum | Nusantara

BADAN Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpollinmas) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mulai mempersiapkan modul guna memberikan pembelajaran kepada generasi muda setempat, tentang pentingnya 4 pilar kebangsaan, roh dasar revolusi mental yang didengungkan Presiden Jokowi.

Program tersebut direncanakan berlaku efektif mulai 2021 mendatang. Kesbangpolinmas menggandeng pramuka, Sekolah, NGO, Forum Inovasi Anak Lembata (FIAL), menggempur mental generasi muda sebelum terjun ke dunia nyata.

Kaban Kesbangpolinmas kabupaten Lembata, Anselmus Bahy, Senin (7/9) menyebutkan, pihaknya menyasar generasi muda dalam menebar revolusi mental yang dinilainya semakin memprihatinkan di Kabupaten Lembata.

Ansel Bahy mencontoh, hilangnya budaya tegur sapa di kalangan generasi muda, kemudian budaya berkelahi di Pesta, serta tingginya angka penyakit menular sexual dikalangan remaja Lembata, menjadi preseden buruk hilangnya nilai-nilai Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika (4 pilar kebangsaan).

"Kami sudah membangun komunikasi dengan berbagai stakeholder di Lembata antara lain, Plan Internasional. Saya lama bergaul dengan Plan internasional, sehingga saya tahu, ada tahapan-tahapan yang kami bisa masuk, guna membina mental mereka, sebelum mereka maju jauh melaksanakan kegiatan Plan, terutama dalam Bloom Project," ujar Ansel Bahy.

Bloom project ini dinilai Kaban Kesbangpolinmas, Ansel Bahy, merupakan program yang bagus mempersiapkan anak muda untuk memasuki dunia kerja.

"Kami insert masuk modul kami ini ke dalam bloom project yang dikerjakan Plan Internasional di 100 desa binaan mereka, sehingga menjadi satu kesatuan gerak. Mereka jalan, kita juga jalan sama-sama. Memikirkan masa depan tetapi harus bertumpu pada mental anak yang bagus," ujar Ansel Bahy.

Disebutkan, saat ini pihaknya sedang menyelesaikan modul kemudian digodok bersama-sama Plan internasional.

Selain itu, Anselmus Bahy menyebut, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Korwas SMA/SMK, agar modul tersebut bisa masuk ke Mata pelajaran, memanfaatkan kegiatan ekstra kurikuler.

"Di Modul yang disediakan itu bukan hanya sekedar sosialisasi tentang 4 pilar kebangsaan dan revolusi mental, namun harus diipleementasi dalam kegiatan nyata di lapangan," ujar Bahy.

Mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata ini berharap, profram revolusi mental yang diharapkan adalah, nilai-nilai yang wajib dimiliki generasi bangsa dalam menghadapi persaingan global namun tetap menjunjung tinggi nilai nilai etika ketimuran yang telah digariskan sesuai Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

"Contoh, orang bangun bengkel. Ketika bengkel di sebelah lebih maju, bagaimana cara dia tidak boleh pergi potong bengkel sebelah agar dia sendiri yang maju, tetapi dia wajib berbenah diri agar dapat bersaing secara sehat dengan bengkel sebelah. Kalau di cut bengkel sebelah agar dia bisa mandiri, itu mental yang tidak bagus kan gitu," ujar Ansel Bahy.

Disebutkan, pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kadis Pendidikan Provinsi NTT, agar modul revolusi mental tersebut juga dimasukan ke dalam pembelajaran di SMA dan SMK baik di kurikuler maupun kegiatan ekstrakurikuler. (OL-13).

BERITA TERKAIT