07 September 2020, 14:46 WIB

Pandemi Covid-19 Berpotensi Ancam Target Penurunan Stunting


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang telah berlangsung sekitar enam bulan di Indonesia menimbulkan dampak negatif bagi berbagai sektor, terutama kesehatan dan gizi masyarakat.

Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Pungkas Bahjuri Ali mengatakan, pandemi covid-19 berpotensi meningkatkan angka stunting dan mengancam target pemerintah menurunkan angka stunting hingga 14 persen dari total angka kelahiran anak pada 2024.

“Kalau dibilang mengancam, pasti akan mengancam (target pemerintah),” kata Pungkas dalam webinar, Senin (7/9).

Namun, saat ditanya lebih lanjut terkait status stunting sepanjang 2020, Pungkas mengaku belum memiliki data terbaru, sebab survei nasional terkait stunting rencananya baru akan dilakukan dalam bulan ini.

“Angka stunting yang melalui survei nasional baru akan dilakukan di bulan-bulan ini oleh Litbang, jadi kita belum tahu status stunting di 2020,” imbuhnya.

Pungkas menjelaskan, terdapat beberapa indikator yang menunjukkan adanya potensi peningkatan stunting selama covid-19. Berdasarkan hasil survei Balitbangkes Kemenkes pada 4.798 puskesmas, diketahui terdapat penurunan pada kegiatan posyandu, sebanyak 43,51 persen posyandu menghentikan kegiatannya selama pandemi, 37,23 persen mengalami penurunan kegiatan, dan 18,70 persen posyandu melakukan kegiatan seperti kondisi normal. Kemudian, sebanyak 30,58 persen ibu hamil diketahui tidak melakukan kunjungan ke puskesmas, begitu pula bagi 31,01 persen balita stunting/gizi buruk.

Di samping itu, indikator seperti penurunan pendapatan dan pengeluaran/daya beli masyarakat, hingga kebijakan PSBB juga turut berperan dalam mempengaruhi angka stunting. Namun, Pungkas memastikan bahwa masalah gizi tetap menjadi prioritas pemerintah. Pandemi covid-19 tidak boleh mengurangi upaya-upaya pemerintah untuk menjamin kecukupan gizi masyarakat.

“Yang perlu kita lakukan sekarang adalah bagaimana dalam kondisi seperti ini kita harus bermanuver melakukan inovasi-inovasi dan harus tetap mengupayakan untuk pencapaian target penurunan stunting ke depan,” tuturnya.

Baca juga : Masyarakat Diminta Waspada Klaster Kantor dan Keluarga

Menurut Pungkas, beberapa inovasi yang dapat dilakukan sebagai upaya percepatan penurunan stunting di masa pandemi antara lain, memanfaatkan teknogi digital baik untuk pencatatan, pelaporan, hingga pelayanan kesehatan, refocusing dan realokasi anggaran untuk intervensi gizi sensitif, penajaman fokus kegiatan, perluasan target penerima manfaat termasuk perluasan cakupan penerima bansos dalam bentuk bahan pangan, serta penyesuaian target 2020-2021. Dia pun berharap, berbagai pihak termasuk organisasi masyarakat bisa ikut membantu pemerintah dalam meraih target pengurangan prevalensi stunting.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Nutrition International Indonesia Sri Kusyuniati meminta para pemangku kepentingan untuk bertindak melindungi status gizi kelompok rentan di Indonesia dengan menerapkan enam langkah pengendalian pencegahan infeksi yang tepat. Pertama, integrasi program untuk menjaga gizi seimbang dalam strategi pencegahan dan pemulihan covid-19. Mengamankan rantai pasok pangan yang sehat dan bergizi bagi kelompok rentan.

Ketiga, penyediaan layanan rutin gizi ibu, bayi, dan balita serta ibu penderita covid-19. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata laksana gizi kurang. Kelima, penyediaan layanan rutin pencegahan kekurangan zat gizi dan suplementasi gizi mikro. Serta pengambilan data tepat waktu dan informasi pembaruan keamanan pangan melalui kolaborasi lintas sektor.

“Intervensi gizi tidak dapat ditunda karena yang namanya gizi adalah justru modal utama untuk melawan virus yang sedang melanda negara kita. Gangguan kekurangan gizi pada balita akan mengakibatkan dampak yang tidak dapat diperbaiki. Program gizi harus bisa beradaptasi dengan aman dan berkelanjutan,” paparnya. (OL-2)

BERITA TERKAIT