07 September 2020, 11:33 WIB

Australia Targetkan 3,8 Juta Dosis Vaksin Covid-19 pada Awal Tahun


Faustinus Nua | Internasional

AUSTRALIA berharap dapat menerima distribusi gelombang pertama vaksin covid-19 potensial pada Januari nanti.

Perdana Menteri Scott Morrison, Senin (7/9), mengatakan pemerintahnya telah mencapai kesepakatan dengan CSL untuk memproduksi dua vaksin. Satu dikembangkan oleh saingannya AstraZeneca dan Universitas Oxford, dan satu lagi dikembangkan di laboratorium CSL sendiri dengan University of Queensland.

Morrison mengungkapkan Australia, pada Januari dan Februari 2021, akan menerima 3,8 juta dosis vaksin AstraZeneca, yang saat ini sedang menjalani uji klinis tahap akhir di Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan.

Baca juga: 44% Warga Yunani tidak Mau Divaksin Covid-19

Kandidat AstraZeneca, AZD1222, dipandang sebagai pelopor dalam perlombaan global untuk memberikan vaksin yang efektif untuk memerangi virus.

'Negeri Kanguru' itu telah mengumumkan pada Agustus bahwa mereka berencana membeli AZD1222 bersama dengan kesepakatan CSL untuk memproduksinya. Rencana itu sempat dipertanyakan setelah CSL mengumumkan akan memprioritaskan pembuatan vaksinnya sendiri.

Dia juga menambahkan Australia akan membeli obat CSL jika uji coba terbukti berhasil. Hal itu menjadi puncak dari kesepakatan untuk mendapatkan kedua vaksin tersebut.

Vaksin CSL akan memulai uji klinis tahap kedua pada akhir 2020 yang berarti paling awal dapat mencapai pasar pada pertengahan 2021.

"Dengan mengamankan perjanjian produksi dan pasokan, Australia akan menjadi yang pertama di dunia yang menerima vaksin yang aman dan efektif, jika lolos uji tahap akhir," kata Morrison.

Jika kedua vaksin lulus uji klinis, Australia akan menghabiskan A$1,7 miliar atau US$1,24 miliar untuk total hampir 85 juta dosis, kata Morrison.

Kesepakatan itu datang ketika Negara Bagian Victoria, Australia mengatakan 41 kasus covid-19 telah terdeteksi dalam 24 jam terakhir, kenaikan satu hari terendah sejak 26 Juni.

Negara bagian terpadat kedua di Australia telah menjadi episentrum gelombang kedua dan sekarang menyumbang sekitar 75% dari 26.320 kasus di negara itu dan 90% dari 762 kematiannya.

Negara bagian tenggara itu pada Minggu (6/9) memperpanjang penguncian ketat di ibu kotanya Melbourne hingga 28 September. Hal itu lantaran tingkat penurunan infeksi harian berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. (CNA/OL-1)

BERITA TERKAIT