07 September 2020, 04:05 WIB

Sentimen Luar Negeri Terus Tekan IHSG


M Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

PERGERAKAN indeks harga saham gabungan (IHSG) pekan II September ini diperkirakan masih melanjutkan tren pelemahan. Selain faktor pandemi covid-19 yang belum berakhir, pelemahan IHSG dipicu besarnya sentimen negatif dari luar negeri.

Satu di antaranya negosiasi paket stimulus fiskal di Amerika Serikat yang berlarut-larut.

Partai Republik dan Demokrat belum menemukan titik temu tentang besaran paket stimulus fiskal.

"Perbaikan data tenaga kerja membuat tidak ada dorongan tambahan untuk mempercepat paket stimulus tersebut. Kesepakatan stimulus menjadi lebih sulit karena menjelang pemilihan presiden pada 3 November," kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee melalui keterangan tertulis kemarin.

Partai Republik dikabarkan akan mengajukan RUU bantuan covid-19 pekan depan dengan menawarkan bantuan tambahan federal senilai US$500 miliar.

"Berlarutnya dan belum adanya kesepakatan paket stimulus fiskal merupakan sentimen negatif di pasar keuangan, tetapi sudah di-price in oleh pasar. Bila terjadi kesepakatan, paket stimulus akan menjadi
sentimen positif untuk mendorong pasar keuangan," ujar Hans Kwee.

Selanjutnya aksi jual pada saham teknologi akibat kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi membuat pasar saham ter tekan turun.

Indeks Nasdaq telah naik lebih dari 80% sejak posisi terendah Maret 2020, sedangkan indeks S&P 500 dan Dow Jones juga telah naik lebih dari 60%.

Pada Agustus Indeks Nasdaq naik 9,6% dan merupakan kinerja bulanan terbaik sejak 2000.

Sementara itu, S&P500 naik 7,6% dan Dow 7% selama Agustus. Itu
merupakan kinerja 30 tahun terbaik untuk kedua indeks.

Chairman The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell dan beberapa pejabat The Fed selama seminggu terakhir menegaskan suku bunga akan tetap rendah dalam waktu beberapa tahun akibat pandemi covid-19.

Perekonomian membutuhkan suku bunga rendah untuk mendukung aktivitas ekonomi.

Hans Kwe mengatakan ratarata inflasi membuat peluang kenaikan bunga lebih lambat terjadi. The Fed juga tidak akan menaikkan bunga biarpun terjadi perbaikan angka pengangguran dan target tercapai.

"Angka ini membaik salah satunya akibat perubahan metode perhitungan. Angka pengangguran membaik, tetapi masih sangat tinggi bila dibandingkan Februari 2020 sebelum pandemi terjadi," ucapnya.

 

Pengangguran

Namun, data pekerjaan dari non-farm payrolls menunjukkan perbaikan. Data Departemen Tenaga Kerja menunjukkan tingkat pengangguran Agustus membaik menjadi 8,4% dari 10,2 % pada bulan Juli.

Data itu lebih baik daripada harapan di angka 9,8% dan membaik dari puncak angka pengangguran di angka 14,7%.

Jumlah klaim pengangguran juga mengalami penurunan di bawah 1 juta tepatnya di 881 ribu pada pekan yang berakhir 29 Agustus, lebih baik daripada survei yang dilakukan Dow Jones di angka 950 ribu.

Sebelumnya pada penutupan bursa, Jumat (4/9), IHSG belum beranjak dari zona merah.

IHSG ditutup turun 40,96 poin atau 0,78% ke posisi 5.239,85.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 9,12 poin atau 1,09% menjadi 825,62.

"Market menantikan US non farm payroll. Selain itu, pelemahan indeks dipicu tren kenaikan jumlah kasus covid-19 baik global maupun domestik," kata analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama di Jakarta, Jumat (4/9). (Ant/E-3)

BERITA TERKAIT