07 September 2020, 02:45 WIB

Standardisasi Khatib Tetap Penting


(Bay/H-1) | Humaniora

PUSAT Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menilai standardisasi para khatib atau juru khotbah tetap penting. Pasalnya, ditemukan masih banyak yang memiliki literasi keagamaan yang rendah.

"Riset-riset PPIM menunjukkan literasi keagamaan para khatib cenderung di beberapa tempat sangat rendah karena paling jarang ter-update atau mendapat pelatihan tambahan. Materi yang disampaikan juga cenderung konvensional," kata Direktur PPIM UIN Jakarta Ismatu Ropi, kemarin.

Ia mengatakan itu terkait mencuat polemik pernyataan Menag Fachrul Razi tentang radikalisme dan good looking para hafiz.

"Bagi saya, intinya bukan masalah good looking dan hafiznya. Itu kasus per kasus saja. Yang harus jadi concern bersama ialah beberapa masjid mengundang para khatib yang model keberagamaannya kurang pas dengan upaya pemerintah mendiseminasi moderasi beragama," ujarnya.

Hemat dia, harus ada upaya standardisasi khatib terlepas siapa yang melakukan. "Boleh Kemenag atau MUI."

Hanya saja, imbuh Ismatu, jangan sampai permasalahan ini dijadikan proyek komersial yang nantinya justru menyebabkan masalah baru atau menjadi cara untuk mengeksekusi jika pandangan berbeda karena beda sumber baca atau beda organisasi.

"Jika pemerintah terlalu interventif harus dikritik juga. Beragama dan bernegara juga ada kesantunan dan adab. Harus imbang," pungkas Ismatu

Pada bagian lain, sejumlah kalangan mengkritik keras pernyataan Menag tersebut. "Melihat sikap dan cara pandang Menag, saya secara pribadi yang juga kebetulan Sekjen MUI menolak tegas program dai dan penceramah besertifikat yang akan melibatkan MUI," kata Anwar Abbas melalui keterangan tertulis kepada wartawan. (Bay/H-1)

BERITA TERKAIT