07 September 2020, 00:05 WIB

Hujan Deras Datang ke Limapuluh Kota


(YH/RF/LD/BB/N-3) | Nusantara

HUJAN dengan intensitas tinggi sudah mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan. Sejenak warga dan pemerintah bisa berlega karena potensi bencana kabut asap bisa berkurang.

Namun, hujan bukan tidak berbahaya. Buktinya, sejumlah titik di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat, sudah dikepung banjir. Genangan air itu terjadi akibat meluapnya Sungai Batang Harau dan Batang Sinamar yang tidak mampu menampung derasnya air hujan.

Banjir terjadi di Nagari Taram, Kecamatan Harau, dan Nagari Batu Payung di Kecamatan Lereh Sago Halaban. Hasil pantauan melalui udara memperlihatkan beberapa rumah, ruas jalan, dan area persawahan terendam banjir.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Limapuluh Kota, Joni Amir, menyatakan hujan masih turun di daerah hulu. "Kami sudah mengantisipasi dengan mendirikan tenda darurat untuk warga yang mengungsi."

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Minangkabau, sebagian besar wilayah Sumatra Barat masih berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan juga disertai kilat dan petir serta angin kencang.

Hujan juga mengguyur Bangka Belitung. "Potensi hujan juga masih akan terjadi dalam beberapa pekan ke depan," kata Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Aswin.

Ia mengakui meski tidak besar, hujan sangat membantu pihaknya mengendalikan titik api yang mulai menyebar. "Sejak sebulan ini, titik panas selalu muncul di sejumlah kabupaten dengan jumlah bervariasi. Hujan membuat sejumlah titik panas menghilang."

Di Pulau Jawa, hujan belum mau datang. Sebanyak 11 kabupaten di Jawa Tengah pun harus mulai mewaspadai terjadinya kekeringan meteorologis.

"Brebes, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Purworejo, Demak, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Wonogiri masuk kategori siaga. Berdasar prakiraan, pada 10 hari pertama September, ada 60% daerah yang masuk kriteria hujan dengan intensitas rendah dan beberapa daerah tidak mengalami hujan sangat panjang," ujar pengamat cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Tunggul Wulung Cilacap Rendi Krisnawan.

Suplai air bersih pun sudah harus dilakukan BPBD Cilacap. Pasalnya, di Desa Bojong, Kawunganten, 94 keluarga mengalami krisis air bersih.

Kemarin, korban bencana, Een, 65, warga Cieundeur, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat, menerima bantuan berupa pembangunan kembali rumahnya yang ambruk akibat pergeseran tanah. "Pemkab Cianjur akan segera membangun kembali rumah korban," kata Kepala Pelaksana BPBD Dedi Supriyadi. (YH/RF/LD/BB/N-3)

BERITA TERKAIT