06 September 2020, 18:16 WIB

BPOM : Perlu Kolaborasi Tangani Covid-19 Antar-Anggota OKI


Atikah Ishmah Winahyu | Internasional

KEMANDIRIAN dan akses terhadap obat dan vaksin saat ini menjadi isu yang sangat penting. Terutama di tengah masa pandemi covid-19 yang telah berdampak pada status kesehatan di 114 negara di seluruh dunia.

Tidak terkecuali negara anggota Organisasi Kerjasama Islam, dengan jumlah kasus terinfeksi mencapai lebih dari 12.964.809 dan angka kematian sebanyak 570.288 orang.

Oleh sebab itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) menilai, perlu ada kolaborasi pengembangan vaksin covid-19 di negara-negara anggota OKI.

Kepala Badan POM Penny K Lukito mengatakan, perlu adanya koordinasi dan kolaborasi antara regulator (National Medicines Regulatory Authorities/NMRAs) dan industri farmasi negara anggota OKI dalam rangka pengembangan obat dan vaksin sebagai langkah strategis terhadap upaya penanganan pandemi covid-19.

"Secara global, juga sebagai langkah nyata dalam mempercepat implementasi Jakarta Deklarasi dan Rencana Aksi NMRAs OKI ” kata Penny K Lukito dalam pernyataan tertulis yang dikutip Media Indonesia, Minggu (6/9).

Baca juga : Diplomat Bisa Jadi Pemasar Andalan Kopi Indonesia

Dalam kerangka kerja sama dengan OKI, Indonesia melalui Badan POM telah membantu peningkatan kapasitas regulator di negara anggota OKI dalam melakukan pengawasan obat dan makanan, meningkatkan ketersediaan obat dan vaksin, serta mendukung kemandirian dalam produksi dan penyediaannya di negara anggota OKI yang membutuhkan.

Salah satunya melalui Program Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular dalam bentuk sharing knowledge and experience di bidang obat dan vaksin.

Menurut Penny, posisi Indonesia sebagai Center of Excellence (CoE) di bidang vaksin dan produk biologi di antara negara anggota OKI memiliki peran yang penting untuk mendorong kerja sama strategis di bidang obat. Khususnya untuk mendukung ketersediaan dan kemandirian (self-reliance) dalam pemenuhan kebutuhan obat dan vaksin yang aman, bermutu, berkhasiat, dan terjangkau bagi negara anggota OKI.

Sebelumnya, Badan POM telah mengadakan pertemuan koordinasi dengan Tim Sekretariat OKI berupa penjajakan kolaborasi dan kerja sama obat dan vaksin di negara anggota OKI.

Koordinasi tersebut menyepakati terlaksananya pertemuan teknis NMRAs dan Industri Obat dan Vaksin Negara-Negara OKI dalam bentuk workshop virtual, dengan agenda pertukaran informasi dan pengalaman terkait kerja sama pengembangan obat dan vaksin sekaligus pengalaman dalam menghadapi pandemi covid-19. (OL-7)

BERITA TERKAIT