06 September 2020, 03:15 WIB

Blasteran Kelon


Suprianto Annaf Redaktur Bahasa Media Indonesia | Weekend

MESTINYA saya tidak perlu terperanjat mendengar kata ‘kelon’ walaupun itu disampaikan seorang ibu dari putri teman SMA anak saya. Namun, karena ‘kelon’ yang saya pahami sedikit romantik, saya pun spontan kaget. Betapa tidak, kelon yang saya pahami berarti ‘ peluk dengan sayang’. Masak iya, pagi-pagi di antara barisan orangtua yang mengantre di pelataran sekolah ada yang pelukan. Apalagi, itu dilakukan dengan seorang ibu yang tidak dikenal. Aneh, kan?

Oh ternyata, kelon yang dimaksud si ibu langsung ia luruskan. “Maksud saya kelas online, Pak. Bukan yang itu tu (baca: pelukan),” jawab sang ibu singkat. Setelah penjelasan itu, netrallah semuanya. Tidak ada yang menegang atau memalukan atas dialog singkat itu. Hanya pengalaman saya dan ibu itu tidak sama. Miskomunikasi pun tentu saja menjadi ujungnya. Kelon yang menjadi akronim ‘kelas online’ tidaklah sama dengan ‘pelukan sayang’ yang saya maksudkan. “Oh ala. Itu ternyata.” Berkali-kali saya hendak mengulangi penyesalan saya. Setop!

Singkat cerita korona memunculkan kreasi berbahasa. Selama pandemi covid-19, banyak lema yang dibahas. Mulai kata new normal, penulisan covid-19, hingga kata kelon yang baru muncul. Kreasi seperti ini bisa saja terjadi melalui terjemahan, pemadanan kata, singkatan, dan akronim. Kata-kata yang intens disampaikan enam bulan terakhir secara otomatis menambah perbendaharaan.

Bila dituntaskan dalam pembahasan, akronim kelon merupakan kata blasteran. Dua unsur itu merupakan perpaduan dari bahasa yang berlainan. Kata kelas milik Indonesia dari adaptasi fonologi, sedangkan kata online milik asli Inggris. Namun, jujur saja saya sampaikan bahwa kata online ini lebih dekat dengan penutur asli bahasa Indonesia daripada kata daring (dalam jaringan). Intinya daring kalah bersaing.

Bila saja kata daring menjadi diksi pilihan, kata kelon pastilah akan dilupakan. Masyarakat penutur bahasa Indonesia akan lebih memilih akronim ‘kering’ atau bisa juga berganti ‘kedar’. Baik kering maupun kedar menjadi akronim dari ‘kelas daring’.

Kreasi berbahasa serupa kelon memang gambang terjadi. Keinginan berbahasa singkat dan penuh sensasi menjadi ciri generasi di negeri ini. Bila kaum 70-an dan sebelumnya tidak memperbarui informasi, kata-kata baru yang ‘nakal’ ini tidak akan dimengerti. Komunikasi santai dengan milenial akan mengalami hambatan. Benturan. Paling tidak ada kesan ketinggalan bila kata ‘nyentrik’ itu tidak ada dalam ingatan.

Di lain sisi, pers dan media sosial menjadi sarana pengantar ketersebar an. Keduanya merupakan rujukan yang mesti bermuatan pendidikan. Filter diksi tentu saja akan menekan kesemenaan berbahasa. Kreativitas yang ingin ditonjolkan mestinya tidak menabrak aturan. Bila memang kata itu akan selalu tumbuh dan ada di tengah para penutur, harapan terakhir patuhilah penempatan dan kegunaan. Sekali lagi, kata itu mewakili pesan. Bila salah kata, banyak rasa yang ditimbulkan.

Sebagai contoh, kreasi kata ‘anjay’ pun menuai cacian. Di satu sisi kata ini saringan dari kata anjing yang disamarkan, tetapi di sisi lain menjadi pelesetan yang menyakitkan. Sekali lagi ini kreasi yang tidak bisa dihindarkan. Muncul di kalangan milenial sebagai hiburan. Kata yang berkelonan tanpa aturan merupakan kretivitas yang digunakan sekali jalan. Akhirnya hilang dan terlupakan.

BERITA TERKAIT