06 September 2020, 02:15 WIB

Kecil-Kecil Peduli Lingkungan


Galih Agus Saputra | Weekend

SOBAT Medi pasti sudah sering mendengar tentang kerusakan lingkungan di berbagai tempat. Salah satu yang paling banyak terjadi ialah masalah sampah atau limbah.

Parahnya masalah pencemaran sampah, khususnya sampah plastik, bahkan sudah sampai ke lautan. Ya, sampah plastik, baik kantong plastik maupun botol, banyak sekali yang akhir nya masuk ke sungai dan berujung ke lautan.

Di sana, sampah plastik sudah banyak yang membunuh hewan-hewan laut. Mereka banyak yang mati karena terjerat kantong plastik atau mati karena tidak sengaja memakannya. 

Di laut, kantong plastik memang akan terlihat seperti ubur-ubur yang memang merupakan makanan ikan. Nah, untuk mengatasi masalah sampah ini butuh kepedulian semua orang, termasuk sobat Medi! 

Meski masih kecil, sobat Medi bisa berbuat banyak untuk menolong lingkungan kita. Salah satu cara terpenting ialah dengan menghindari menggunakan kantong plastik. Jadi, saat pergi ke mana pun, sobat Medi harus selalu sedia dengan kantong belanja sendiri sehingga tidak
perlu menggunakan kantong plastik dari swalayan atau toko.

Menghindari menggunakan kantong plastik sekali pakai ini termasuk juga dalam bentuk gerakan reduce (mengurangi) sampah. Gerakan reduce ini pula yang dilakukan dua teman kita, Kinasih Bendari Ardhiona Rajni dan Marsya Fadira.

Kinasih atau yang akrab disapa Nara dan Marsya sama-sama murid Sekolah Cikal, Jakarta, yang masing-masing duduk di kelas 6 dan kelas 8. Nara senang berkemah atau menjelajah (tracking) di pegunungan. 

Dari situlah kepeduliannya soal lingkungan tumbuh. Untuk menjaga lingkungan mereka pun ikut melakukan gerakan 3R (reduce, reuse, dan recycle) sehari-hari. Nara telah memiliki proyek lingkungan sejak duduk di kelas 5. 

Bersama tiga temannya, yakni Fanda, Radi, dan David, ia membentuk tim bernama Waste Management. Sesuai dengan namanya mereka mengelola sampah dengan cara pemilahan. Dengan begitu, sampah akan lebih mudah diolah sesuai dengan jenisnya.

Sampah yang disortir merupakan sampah di area sekolah mereka. Kegiatan itu pun menarik perhatian teman-teman ataupun guru. Oleh para guru, tim itu kemudian diberi julukan spesial

“Agar nama kami lebih catchy, guruguru kami memanggil kami Waste Rangers. We are the power rangers of sorting the waste,” tutur Nara kepada Media Indonesia, Rabu (26/8).

Kegiatan Nara dan teman-temannya itu berlangsung hingga sekarang. Nara juga telah menuangkan pengalamannya tersebut menjadi buku berjudul Waste Management (Pengelolaan Limbah) setebal 77 halaman. 

Hebatnya lagi, buku itu sudah menjadi koleksi Perpustakaan Nasional  Indonesia, lo! Dalam buku itu, Nara menyertakan banyak ilustrasi dan penjelasan mengenai jenis sampah dan permasalahannya di negara kita. 

Nara juga memasukkan hasil wawancaranya dengan pegiat lingkungan. Dengan begitu, buku ini pas sekali buat temanteman yang juga ingin belajar mengelola sampah.


Relawan

Marsya memilih jalan peduli lingkungan dengan cara menjadi relawan di kegiatan bersih pantai dan laut. Menjadi relawan pula ia lakukan dalam peringatan HUT ke-75 RI.

Sobat kita yang duduk di kelas 8 ini memang mahir menyelam. Marsya sudah pernah menyelam hingga ke laut Mansinam, Papua Barat, dan laut Arborek, Raja Ampat.

Menurut teman kita yang kelak ingin menjadi dokter atau arkeolog itu, bumi ialah tempat tinggal dan pusat kehidupan yang tak hanya diperuntukkan bagi manusia, tetapi juga makhluk lainnya yang ingin hidup. 

Oleh karena itu, katanya, penting bagi kita semua untuk menyadari bahwa sekarang ini kita tidak hidup sendiri di bumi.

“Kita sebagai bagian dari bumi harus memulai hal-hal kecil yang dapat menyelamatkan bumi. Kalau aku dan keluargaku selalu menggunakan kantong yang tidak berbahan plastik atau menggunakan sedotan ramah lingkungan, seperti stainless steel daripada sedotan plastik,” imbuh Marsya.

Kegiatan lingkungan Marsya juga sangat didukung orangtuanya. Sang Bunda, Sylvia Corina, mengatakan bahwa sejak kecil Marsya memang sudah peduli lingkungan, bahkan kerap menegur dirinya jika kedapatan menggunakan kantong plastik sekali pakai atau sedotan plastik.

“Saya pun menyadari, anak saya sangat peduli dengan lingkungan dan mencintai laut Indonesia,” imbuh Bunda Sylvia. 

Sementara itu, Bunda Stephanie Arum Sekarati mengatakan ketertarikan Nara pada kebersihan lingkungan dimulai dari kebiasaan bersama keluarga ketika berkemah di pegunungan.

“Saya berharap Nara dapat tumbuh dewasa kelak menjadi manusia yang apa adanya, tapi selalu ingat dengan lingkungan dan memberikan kontribusi baik, berdampak pada lingkungan hidup di sekitarnya,” tutur Bunda Arum.

Kepala Sekolah Cikal Cilandak, Ibu Windy Hastasasi, pun memuji kepedulian lingkungan dari muridnya. Ia mengungkapkan jika pihak sekolah selalu berupaya mendukung minat positif ataupun inovasi yang dilakukan para murid. (M-1)

BERITA TERKAIT