06 September 2020, 00:35 WIB

Kebebasan pada Durasi Pendek


Fathurrozak | Weekend

TILIK, film pendek berdurasi 32 menit, menjadi buah bibir sebagian masyarakat, baru-baru ini. 

Karakter yang ikonik dan lekat dengan keseharian, cerita yang familier, barangkali ialah beberapa dari sejumlah faktor yang menjadikan film itu viral, ditonton hingga 21 juta kali di kanal Youtube hingga medio pekan ini.

Kehadiran Tilik sedikit banyak menggugah keingintahuan tentang kehadiran film pendek kurang dari 50 menit dalam khazanah perfilman nasional. 

Di Indonesia, adalah Minikino Film Week (MFW) yang konsisten menghelat festival film pendek selama enam tahun terakhir.

Tahun ini, MFW hadir secara fisik meski berada di tengah situasi pandemi covid-19. Berlangsung pada 4-12 September, MFW tidak kehilangan antusiasme pengirim karya.

Meski secara proporsi film yang ditayangkan memang dikurangi sebagai bentuk penyesuaian dan adaptasi terhadap situasi saat ini. Tahun lalu, ada 473 film pendek yang ditayangkan, dengan 109 film Indonesia.  Namun, tahun ini dimampatkan menjadi 275 film pendek yang ditayangkan, dengan 48 film berasal dari Indonesia. MFW bisa dianggap sebagai salah satu hub film pendek di Indonesia. 

Memasuki tahun keenam penyelenggaraan, mereka tetap konsisten untuk menghadirkan film-fi lm pendek internasional dan dari berbagai daerah di Indonesia. Karena konsistensi itu, Minikino juga dipercaya Komite Penjurian Festival Film Indonesia (FFI) sebagai kurator untuk film cerita pendek, bersama Organisasi Boemboe dan JAFF. 

Melalui beberapa program yang diinisiasi Minikino, mereka menjelajahi film-film pendek dari berbagai daerah. Salah satunya lewat Indonesia Raja. Bukan saja memutarkan film, melainkan juga lebih jauh memberikan pelatihan pada calon programmer. 

Artinya, mereka juga berinisiasi membentuk bagian yang melengkapi ekosistem film pendek. “Menurut kami, animo produksi film pendek jauh lebih tinggi dan belum seimbang dengan kesadaran ekshibisi yang layak dan distribusinya. Saya pikir itu yang masih menjadi pekerjaan rumah. Ada miskonsepsi, ketika menjadi programmer hanya sekali, sudah, sedangkan programmer itu kan membangun reputasi. Dia bisa membawa film itu ke mana, siapa yang percaya dengannya. Apakah dia betul bisa memperjuangkan filmnya, bisa diputar dengan cara yang strategis,” kata Direktur Program Minikino Film Week 6 Fransiska Prihadi saat berbincang kepada Media Indonesia melalui konferensi video, Rabu (2/9).

Lebih lanjut, imbuhnya, yang juga masih menjadi pekerjaan rumah dari film pendek di Indonesia ialah soal diseminasi yang di dalamnya mencakup distribusi dan ekshibisi.

Di sisi lain, ia menganggap film pendek Indonesia memang sudah cukup eksploratif baik secara tema maupun bentuk. “Ragamnya luar biasa, membongkar banyak stereotip film. Bicara film pendek Indonesia, kaya sekali. Dengan adanya Indonesia Raja, senang bisa menghadirkan film berbahasa ngapak misalnya. Produksi film pendek jauh lebih leluasa, meski bukan berarti bisa sangat murah. Bisa juga sangat tinggi (biaya produksi),” tambah Cika, sapaan Fransiska.

Ko-Pendiri Organisasi Boemboe Lulu Ratna juga menyatakan hal senada dengan Cika. Menurutnya, film pendek memiliki kebebasan seluas-luasnya baik secara format bertutur maupun gayanya yang tidak ditemukan di film fitur.

“Keragaman sudah sangat ada. Cuma, memang kita hanya bisa mengetahui peningkatan atau capaian-capaian dari acara festival film karena memang tidak ada jalur yang ajek. Festival juga itu tahunan, baru bisa lihat,” kata Lulu melalui sambungan telepon, Rabu (2/9).

Bersama Boemboe, Lulu dan timnya rutin menggelar forum tahunan Boemboe yang bentuknya serupa presentasi karya. Boemboe menjaring beberapa film yang berangkat dari profil sineas film pendek untuk ditampilkan dalam suatu program, lalu didiskusikan setelah menonton filmnya. Tahun ini Boembo tetap merencanakan hajatan tahunan yang akan menjadi kali ke-17, digelar secara daring pada kisaran Oktober.


Perlu cara baru

Sineas Jason Iskandar menyebut pandemi juga berdampak pada ekosistem film pendek. Menurutnya, dalam situasi normal biasanya akses untuk menonton film pendek melalui bioskop alternatif dan festival, tentu saat ini menjadi sulit.

Alhasil, sineas harus memikirkan alternatif. “Salah satu turning point-nya ialah WFH dan pandemi. Dulu mungkin banyak yang ragu dan takut, sekarang jadi berani untuk mengunggah film pendeknya melalui platform digital, misalnya,” katanya saat siaran langsung bersama Media Indonesia, Senin (31/8).

“Jualan, film pendek agak tricky karena bukan durasi yang ideal untuk dijual. Harus sepaket beberapa film pendek. Secara general, dulunya kan membuat film pendek itu sebagai eksperimen yang tidak bisa dilakukan di fi lm panjang. Jadi, sekarang ya juga harus ada eksperimeneksperimen percobaan itu, baik cerita maupun distribusi,” tambahnya mengenai upaya eksplorasi yang memerlukan cara baru.

Lulu berpendapat, untuk film pendek masuk ke platform yang lebih ajek, seperti televisi, yang durasi programnya terukur secara durasi dan jenisnya, butuh usaha lebih.

Meski secara historis beberapa kali TV juga menayangkan program film pendek, seperti dilakukan TVRI sejak pandemi. Sementara itu, Cika memiliki  pandangan pada konsep intensif yang mengharuskan film pendek bisa diputar di bioskop sebelum film fitur dimulai. Meski ia memberi catatan, film pendek bukan serupa appetizer.

“Misalnya, di Eropa atau Amerika Latin, dalam setiap pemutaran film panjang ada intensif pemutaran film pendek. Karena mau mendorong adanya apresiasi, terutama terhadap pembuat film pendek lokal. Itu bukan ide buruk, walau sebenarnya film pendek bukan hidangan
pembuka. Namun, itu cara yang bisa didorong pemerintah untuk memaksa industri film panjang yang nilai ekonominya jauh lebih tinggi dan didominasi jenis dan distributor serta negara tertentu, untuk memaksa dunia komersil mendukung film pendek.”

Cara lain ialah berharap jaringan bioskop membuat pemrograman film pendek layaknya yang dilakukan penyelenggara festival. Mendorong untuk menciptakan pilihan tontonan program film pendek yang sejauh ini masih belum digarap.

Bisa jadi dengan cara seperti ini, penonton yang belum terbiasa, akan terbentuk kulturnya. “Kesempatan menonton yang layak itu yang harus diperbaiki. Dengan kesadaran seni dan budaya, keunikan dengan memutarkan film pendek dengan kualitas yang lebih baik cukup tinggi. Kalau diputar di online, nilai film pendek jadi berkurang,” kata Cika.

Berbeda dengan Cika, Lulu Ratna beranggapan platform digital ialah strategi yang cukup ampuh untuk menghadirkan film pendek secara kontinu.

“intinya, sekarang tinggal menaikkan pamor biar fi lm pendek tidak dianggap sebagai sekadar another content,” kata pengajar Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini.


Skema pendanaan

Meski Cika sempat menyebut jumlah produksi dan ekshibisi yang layak tidak sebanding, rupanya sejauh ini inisiasi produksi masih berangkat dari modal personal. 

Baik Lulu maupun Cika melihat sejauh ini skema yang berjalan ialah modal dari kantong personal si pembuat, secara swadaya. Makanya, Lulu juga menyebut, “Keniscayaan film pendek adalah seni, bukan semata pesanan.”

“Yang masih menjadi pekerjaan rumah juga buat kami, di MFW juga baru bisa berikan hadiah uang tunai baru di Begadang Filmmaking Competition. Salah satu mencari pendanaan kan ya memang dari festival. Tapi bikinnya dulu, dari mana? Ada yang memang kemudian crowdfunding. Artinya, memang belum lestari sistemnya. Meski tidak bisa mengecilkan juga peran VOD yang mendanai pembuatan beberapa film pendek, harusnya juga ada upaya dari pemerintah memperhartikan sisi budaya. Bagaimana pun juga, harusnya bisa meyakinkan investor untuk berinvestasi di film pendek,” kata Cika.

Inisiasi TVRI dalam menayangkan program film pendek barangkali menjadi salah satu alternatif saat ini untuk menjawab persoalan distribusi. Menurut Lulu, itu bisa menjadi panggung film pendek di platform nasional. 

Selain itu, tayangnya film pendek di platform digital baiknya juga perlu memperhatikan aspek keamanan film. “Film pendek itu selalu mengisi ruang-ruang yang ada. Mereka tidak menciptakan ruang itu, di mana pun ada ruang, di situ bisa dimasuki.” (M-2)

BERITA TERKAIT