05 September 2020, 13:21 WIB

Sistem Tracing Digital Covid-19 Buat Perusahaan Cermat Pengeluaran


Dero Iqbal M | Humaniora

SALAH satu persoalan utama dalam pencegahan covid-19 yakni mendapatkan gambaran akurat pergerakan dari orang yang diduga sebagai pembawa virus, khususnya di lingkungan kerja.

CEO & Founder Siaga Ivan Muliadi menyatakan salah satu kesulitan pertama dalam penangan covid-19 berkaitan dengan tracing. Sebab dengan gambaran tracing yang baik dapat diambil langkah yang efisien dan tepat.

"Dalam penanganan covid-19 harus ada tracing, testing dan treatment. kalau tracingnya tidak kita ketahui akhirnya testingnya akan secara sporadis dan biaya yang dikeluarkan cukup mahal. Test itu pun tidak cukup sekali, sehingga perusahaan tentu sulit bertahan di masa ini," ungkap Ivan saat ditemu di kawasan Alam Sutera Tangerang, Sabtu (5/9).

Untuk itu, ada kebutuhan akan suatu sistem tracing yang berbasiskan digital untuk diterapkan di lingkungan perusahaan. Bahkan lebih jauh sistem ini pun dapat dipergunakan efektif di event Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di komunitas.

Ivan menerangkan, sistem tracing miliknya tidak menggunakan basis aplikasi atau pin point GPS maupun bluetooth. Namun sistemnya mengoptimalkan penggunaan QR code yang terhubung dengan basis data siaga digital covid-19 contact tracing.

Sistem ini digunakan secara internal di perusahaan maupun event sehingga hanya yang terdaftar yang bisa masuk ke dalam sistem. Sistem ini akan memudahkan pihak HRD memainkan data sesuai dengan kebutuhan.

Ia mencontohkan bila perusahaan A, kafe B dan restoran C menggunakan sistem ini, karyawan A yang mengunjungi kafe B dan restoran C, bila terjadi klaster di perusahaan A, pihak Siaga akan dapat memberitahukan ke pihak B dan C begitupun sebaliknya. Begitu pula bila mengikuti event yang menggunakan sistem yang sama.

"Dalam hal ini Siaga digital menjadi umbrela bagi beberapa komunitas tertutup dan informasi menjadi terbuka karena dapat mengetahui kemana orang ini pergi. Sebab inti utamanya adalah untuk melindungi perusahaan," ungkap Ivan.

Baca juga: Kasus Baru Positif Covid-19 Hasil Tracing Secara Masif

Meski begitu, data detailnya tetap menjadi kelolaan dari masing-masing perusahaan karena merupakan rahasia perusahaan. Pihak Siaga hanya memberikan notifikasi kepada perusahaan lainnya akan tracing orang berpotensi tersebut.

Dalam aplikasi di perusahaan, Ivan mencontohkan sistemnya akan membagi dalam tiga ring sesuai dengan tingkat penularan maupun kontak yang dilakukan. Misalnya untuk ring 3 adalah semua karyawan yang masuk kerja, ring 2 adalah ruang kerja maupun ruang lainnya dan ring 1 adalah yang lokasi orang tersebut lebih dari 30 menit yang tentu potensi penularannya lebih besar.

Lebih lanjut, Ivan menyatakan karena sistem ini berbasis QR code, harus ada kesedaran karyawan sendiri untuk melakukan scan. Ini akan berkaitan dengan kepatuhan dan kembali pada pola di perusahaan dan personal karyawan.

Ia menyatakan bila sistem punishment and reward dapat diterapkan, HRD akan menjadi pihak yang aktif melindungi.

Dengan mendasarkan kepada Permenkes 328 tahun 2020 tentang self assessment, dalam sistem ini, pada malam sebelum karyawan masuk kerja, HRD akan mengirimkan email ke semua karyawan, apakah masuk risiko besar atau kecil.

Bila risiko besar, malam itu juga, HRD akan bekerja dan melakukan tracing orang yang berkontak. Sistem akan memberitahu untuk orang tersebut melakukan karantina mandiri dan dilakukan pemantauan selama 14 hari via email dan dataya masuk ke HRD.

Dengan sistem ini, semua data tercapture dengan baik, HRD akan bekerja dengan efisien. Berbeda dengan tracing manual dengan dokumen kertas yang tidak bisa menggambarkan penyebaran virus.

HRD dapat langsung menintercept orang-orang yang berhubungan dengan orang yang memiliki risiko besar untuk melakukan karantina mandiri, sehingga tidak perlu ke kantor.

"HRD akan memiliki data mitigsi dan sangat bisa ditarik berupa soft copy seperti format excel untuk data instansi terkait seperti Kemenaker maupun Kemenkes. Sistem kami mempercepat waktu, menghemat biaya dan efisiensi secara kerja," tuturnya.

Dengan metode tersebut, perusahaan dapat menghemat biaya swab test hingga 80-90%. Dengan memiliki data terukur, dapat memisahkan siapa saja yang harus di test dan tidak perlu semua karyawan diikutsertakan dalam tes.

Untuk biayanya tidak mahal, secara umum sekitar Rp25.000 satu bulan per karyawan. Saat ini, sudah hampir 30 perusahaan yang ingin menerapkan sistem ini dan dalam tahap negosiasi. Sistem tracing ini akan menyesuaikan pola dan cara kerja dari suatu perusahan, sehingga akan berbeda satu dengan lainnya.

Untuk perusahaan yang sangat berminat seperti perusahaan helikopter, di heli mereka akan ditempelkan QR code dan sistem ini dapat sekaligus digunakan untuk keperluan manifest helikopter. Pun dengan perusahaan retail dann padat karya yang karyawannya ribuan orang.(OL-5)

BERITA TERKAIT