05 September 2020, 06:50 WIB

Ambisi Besar dalam Cip Kecil


Putri Rosmalia | Teknologi

Kesuksesan miliarder pendiri perusahaan otomotif Tesla dan SpaceX, Elon Musk, dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik dan penerbangan angkasa luar tak serta-merta membuatnya. puas. Elon, melalui perusahaan rintisannya bernama Neuralink, terus berupaya mengembangkan proyek penanaman cip komputer pada otak manusia.

Terbaru, pada 29 Agustus lalu, Elon dan Neuralink mendemons­trasikan keberhasilan mereka menanamkan cip komputer pada otak babi. Babi yang dinamai Gertrude tersebut merupakan salah satu dari tiga babi yang ditanam cip seukuran koin pada otaknya. Gertrude telah menjalani pemasangan implan cip selama dua bulan ke belakang.

Dalam tayangan Neuralink, Gertrude terlihat sehat dan tetap aktif beraktivitas seperti biasa meski telah terpasang sebuah cip di otaknya. Di saat bersamaan juga ditayangkan bahwa sebuah komputer terus menerima informasi dari sinyal nirkabel soal aktivitas tubuh dan saraf Gertrude dari cip di kepalanya.

“Ini seperti Fitbit (produsen jam tangan canggih yang dapat melacak aktivitas) di tengkorak Anda dengan kabel kecil,” ujar Elon dalam pernyataannya setelah rilis keberhasilan cip pada babi selesai dilakukan.

Tujuan akhir Elon ialah agar kelak cip itu dapat ditanam di otak manusia. Dengan begitu, setiap orang dapat mengontrol gawai hanya dengan menggunakan pikiran. Juga, cip itu dapat dimanfaatkan untuk mengobati penyakit terkait otak, dari demensia sampai parkinson, depresi, hingga sekadar mengubah mood.

“Ini akan pas diletakkan di otak Anda. Dapat terletak di bawah rambut dan Anda tidak akan menyadarinya,” klaimnya.

Perangkat yang digunakan Neuralink dalam mengembangkan cip tersebut terdiri atas lebih dari 3.000 elektroda atau penghantar listrik. Seluruhnya dipasang pada benang fleksibel yang lebih tipis daripada rambut manusia. Elektroda tersebut dapat memantau aktivitas setidaknya seribu neuron atau sel saraf pada manusia.

Perusahaan yang didirikan pada 2016 itu pada tahun lalu juga sempat mendemonstrasikan keberhasilan penciptaan cip, tetapi dengan bentuk yang dapat terlihat di telinga penggunanya.

Elon menambahkan, penelitian Neuralink soal cip tersebut sudah semakin mengalami kemajuan. Cip yang diciptakan saat ini berdiame­ter 23 milimeter. Pemasangan dan pelepasan cip diklaim tidak akan berdampak buruk pada fisik atau pikiran pengguna. Proses pemasangan dilakukan oleh robot dengan pembiusan lokal.

Satu hal yang pasti, ambisi Elon untuk mencangkokkan cip ke otak manusia bertujuan agar manusia dapat bersaing dengan kecerdasan buatan dan menghindari kiamat Singularitas yang membayangi, yang merupakan teori bahwa AI dan robot akan segera menyusul manusia.

Dalam wawancara dengan New York Times, Musk memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, umat manusia sudah bisa diambil alih oleh AI, dan meskipun manusia tidak akan punah, kondisi itu bisa menjadi ‘tidak nyaman’.

Prokontra

Di saat Elon dan Neuralink terus mengembangkan risetnya, berbagai komentar berdatangan dari kalangan ahli, khususnya ahli neurosains dan saraf. Sebagian ahli berpendapat bahwa penemuan Neuralink merupakan suatu kemajuan yang hebat. Sebaliknya, sebagian ahli lain berpendapat bahwa cita-cita Elon kelewat ambisius dan bisa berbahaya.

Ahli neuroengineering Universitas Queensland,  Angela Renton, berpendapat hasil uji coba Neuralink merupakan suatu kemajuan signifikan dalam penelitian hubung­an antara komputer dan otak atau brain-computer interface. Hal itu terlihat dari bagaimana Getrude dapat bergerak bebas selama cip terpasang di otaknya.

Ia mengatakan, akan menjadi sangat bermanfaat apabila temuan Neuralink dapat membuat proses pengumpulan data dari subjek penelitian lebih manusiawi dan tidak terkekang mesin.

Di lain pihak, ahli-ahli saraf dari banyak lembaga mengatakan masih terlalu dini untuk meyakini ambisi Elon bakal terwujud. Khusus­nya untuk bisa menyembuhkan berbagai penyakit terkait otak dan saraf manusia. Hal itu karena otak manusia dinilai sangat kompleks dan sulit untuk bisa diimbangi oleh kecanggihan teknologi komputer.

Pakar teknologi informasi dan komunikasi (TIK) Abimanyu Wahyu Hidayat mengatakan keinginan Elon Musk tersebut bukan hal yang tidak mungkin. Namun, itu juga bukan hal yang mudah mengingat kompleksitas otak manusia.

“Sangat dipertanyakan apakah akan bisa ke otak karena otak itu memiliki simpul yang sangat rumit dan bekerja berkombinasi satu sama lain,” ujar Abimanyu ketika dihubungi, Kamis (3/9).

Abimanyu mengatakan setiap hal yang dibentuk oleh suatu pihak atau perusahaan pasti memiliki tujuan. Dalam hal itu kemungkinan yang ada ialah untuk bisa mengontrol aktivitas dan perilaku manusia.

“Harus ada suatu standardisasi suatu protokol, karena kalau tidak, akan terjadi perbenturan, apalagi semua ini didesain oleh manusia. Jadi, desain tersebut pasti selalu punya keinginan dan kepentingan, ambisi untuk kontrol pihak lain dan sebagainya,” ujarnya.

Penanaman cip pada tubuh manusia sebenarnya bukan hal baru. Namun, umumnya cip ditanam di celah jari tangan sebagai penanda identitas atau kunci.

“Namanya radio-frequency identification (RFID). Itu diletakkan di posisi yang sangat aman di celah jari yang hanya lemak, tak ada darahnya. Tetapi itu saja bukan tanpa risiko. Misalnya tangannya cedera, harus diambil dengan ope­rasi. Nah, apalagi kalau itu di otak, tentu masih sangat dipertanyakan,” ujarnya.

Peretasan

Faktor lain yang juga menjadi perhatian ialah soal keamanan. Dilansir ZDNet, para ahli percaya, para penjahat dunia maya akan mencoba dan meretas jenis teknologi ini, terutama karena mereka dapat menggunakannya untuk menjatuhkan perusahaan besar bahkan negara, karena mereka dapat membaca pikiran para pemimpin politik, eksekutif bisnis, dan semacamnya.

Selain itu, para ahli dapat segera menggunakan cip saraf ini sebagai mekanisme autentikasi karena pola aktivitas otak kita sangat unik. Mereka percaya itu dapat digunakan untuk mengizinkan akses ke data sensitif. Itulah sebabnya penjahat dunia maya berpikir akan bermanfaat untuk meretas sistem ini, terlepas dari tantangan yang akan mereka hadapi dalam mereplikasi gelombang otak.

Tetapi, jika terjadi peretasan, apa akibatnya? “Jenis kerusakan apa yang akan (serangan) lakukan pada otak, apakah itu akan menghapus keterampilan Anda atau mengganggu keterampilan Anda? Apa konsekuensinya - apa­kah itu datang dalam bentuk informasi baru yang dimasukkan ke dalam otak, atau akankah itu hilang turun ke tingkat neuron yang merusak, yang kemudian mengarah ke proses pengabelan ulang di dalam otak yang kemudian mengganggu pemikiran Anda,” ujar Dr Sasitharan Balasubramaniam, direktur penelitian dari Grup Perangkat Lunak dan Sistem Telekomunikasi Institut Teknologi Waterford (TSSG).

Untuk menghindari skenario terburuk ini, pabrikan seperti Musk Neuralink harus memastikan keamanan antarmuka ini dengan menggunakan semua jenis tindak­an yang sudah dikenal demi ‘memastikan bahwa tidak ada orang yang tidak berwenang yang dapat mengubah fungsionalitas mereka’. (Techtimes/CNBC/NewYorkTimes/ZDNet/M-2)

 

BERITA TERKAIT