05 September 2020, 05:10 WIB

DI Yogyakarta Waspadai Laju Alih Fungsi Lahan


AT/DW/LN/EP/BN/YK/N-3 | Nusantara

DENYUT pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta menyebabkan sekitar 400 hektare (ha) lahan pertanian hilang per tahun. Saat ini lahan yang tersisa di wilayah ini tinggal 104 ribu ha.

“Karena itu, kami mendesak rancangan peraturan daerah segera disahkan untuk mengendalikan laju alih fungsi lahan pertanian. Raperda ini juga mendorong petani bisa lebih sejahtera sehingga mereka tidak harus menjual lahan,” kata Wakil Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Syam Arjayanti, kemarin.

Alih fungsi lahan di daerahnya, lanjut dia, kebanyakan beralih kepemilikan kepada orang-orang yang bukan penduduk Yogyakarta. “Sebagian besar lahan pertanian dibuat perumahan.”

Alih fungsi lahan juga membayangi Sumatra Selatan. Sekretaris Daerah Nasrun Umar mengakui ada penurunan luas baku lahan sawah. Jika pada 2017 tercatat luasnya mencapai 621,9 ribu ha, pada 2019 surut menjadi 470 ribu ha.

“Potensi alih fungsi lahan masih sangat besar. Di sisi lain, tahun ini kami harus mengejar target produksi padi sebesar 4,9 juta ton gabah kering giling,” ujarnya.

Sampai akhir Agustus sudah tercapai panen 3 juta ton dari luas tanam 867 ribu ha. “Untuk mengejar target, kami butuh tambahan luas tanam di areal seluas 101,9 ribu ha,” tandas Nasrun.

Persoalan berbeda dihadapi Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah. Harga ja­gung dari petani yang dipermainkan perusahaan membuatnya berinisiatif membentuk lembaga untuk menjadi penyangga harga pertanian.

“Setiap tahun harga jagung anjlok dan merugikan petani. Perusahaan harus bisa bersikap lebih bijak, dan kalau tidak bisa, pemprov akan turun tangan menjadi penyangga harga jagung,” tandasnya.

Pemerintah, lanjut dia, sudah menyiapkan skema untuk menjadi penyangga harga jagung dengan menetapkan harga pembelian pemerintah Rp3.150 per kilogram. Saat ini harga pada musim panen hanya Rp1.500-Rp2.000.

Di sisi lain, Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto menggerakkan petani di wilayahnya untuk menghidupkan kembali lahan tidur. Ia memilih budi daya hortikultura.

Kemarin, Nanang mengundang Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Dedi Nursyamsi panen semangka. “Pemanfaat­an lahan tidur sudah berkembang di seluruh Lampung Selatan. Yang terlibat mulai petani, penyuluh, dan warga yang menanamnya di pekarangan rumah,” lanjut Nanang. (AT/DW/LN/EP/BN/YK/N-3)

BERITA TERKAIT