04 September 2020, 16:45 WIB

82% Tenaga Kesehatan Alami Burnout Hadapi Pandemi


Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora

Pandemi covid-19 mengakibatkan peningkatan beban berat terhadap pelayanan kesehatan di tanah air. Selain aspek keselamatan dan perlindungan dari infeksi, risiko lainnya adalah aspek kesehatan mental termasuk risiko burnout syndrome.

Burnout adalah sindrom psikologis akibat respons kronis terhadap stressor atau konflik. Terdapat 3 karakteristik gejala burnout yakni keletihan emosi, kehilangan empati dan rasa percaya diri.

Baca juga: 100 Dokter Meninggal Akibat Covid-19, SDM Jadi Masalah Baru

Menurut dr. Dewi Sumaryani Soemarko, M.S, SpOK dari Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI sebagai pimpinan penelitian mengungkapkan tingkat prevalensi burnout pada tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini terdapat 82% responden yang mengalami burnout tingkat sedang dan 1% tingkat berat.

“Survey ini dilakukan pada 1461 tenaga kesehatan seperti dokter, dokter spesialis, dokter gigi, dokter gigi spsialis , perawat, bidan, apoteker dan analisis lab di seluruh Indonesia. Hasilnya 82% mengalami burnout sedang dan 1% berat," kata Dewi dalam dalam Konferensi Pers Virtual - Burnout Syndrome, Jumat (4/9).

Ia menambahkan, tenaga kesehatan yang sudah menikah bahkan memiliki risiko lebih besar terjadi burnout lantaran dirinya memiliki masalah lain yakni keluarga. “Anda bisa membayangkan para tenaga medis tidak pulang-pulang, sementara keluarga menunggu di rumah dan perasaan itu dipendam. Perasaan dipendam akan menimbulkan kelelahan di batin kita,” imbuhnya.

Lewat penelitian ini, ia  menyarankan tenaga kesehatan harus menyadari bahwa mereka rentan mengalami burnout dalam masa pandemi sehingga tenaga kesehatan perlu memahami gejala burnout dan melakukan pencegahan diri.

Tak hanya bagi tenaga kesehatan, berbagai pemangku kepentingan sepeti tempat kerja, perhimpunan profesi juga pemerintah harusnya mengantisipasi hal ini.

Untuk tempat kerja, lanjut Dewi, bisa menyediakan sarana prasaran yang memadai dalam menangani pandemi covid-19, serta pengaturan jadwal kerja yang memerhatikan kesehatan fisik, dan harus ada dukungan psikososial dalam masa pandemi.

"Sementara untuk perhimpunan profesi hendaknya adakan edukasi kepada anggota untuk mawas diri terhadap gejala burnout dengan membuat support group rekan-rekan seprofesi dan memberikan informasi terkait bantuan konseling psikologis yang dapat diakses oleh anggota perhimpunan," kata Dewi.

Selain itu, ia berharap pemerintah pusat dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah melakukan surveilans burnout kepada tenaga medis. Tak hanya itu, ia meyarankan Kementerian Kesehatan dan dinas kesehatan juga memberikan edukasi kepada fasilitas kesehatan agar memperhatikan burnout tenaga kesehatan serta memfasilitasi layanan konseling psikologis kepada tenaga kesehatan. (H-3)

BERITA TERKAIT