04 September 2020, 12:31 WIB

Strategi Petani Limau Manis Kampar Tetap Untung di Masa Pandemi


mediaindonesia.com | Ekonomi

Petani Jeruk Limau Manis di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, punya cara jitu untuk bertahan di tengah pandemi Covid-19. Memaksimalkan akses media sosial menjadi strategi yang tepat untuk tetap meraup untung di tengah pembatasan jarak di masyarakat.

Lilit Leo Ardy, 44, warga Desa Teluk Paman Timur mengaku adanya pandemi membuat para petani Limau Manis Kampar sedikit kesulitan untuk memasarkan hasil tani karena minimnya akses transportasi. Sekalipun ada, biaya yang dikeluarkan terlampau mahal.

Namun, Lilit dan petani lainnya tak kehabisan akal untuk menyambut permintaan Limau yang meningkat di saat situasi sekarang ini. Kandungan vitamin C buah yang juga dikenal sebagai Limau Manis Kuok ini memang menjadi daya tarik selama pandemi untuk meningkatkan imunitas sehingga permintaan terus menanjak.

Baca Juga: Kebun Petani di Aceh Utara Dirusak Sekawanan Gajah

“Saya posting di media sosial, jika ada permintaan, saya langsung antar. Jadi tidak menunggu datangnya transportasi dan permintaan, tapi saya yang menjemput bola,” tuturnya.

Ia mengaku langkah pemasaran secara daring tersebut terinspirasi dari diskusi dengan perwakilan dari bagian Pemberdayaan Masyarakat (Community Development) PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), unit usaha Grup APRIL. Selama ini, RAPP memang memberikan pembinaan terhadap Kelompok Tani (Koptan) Air Terjun yang ia ketuai. Koptan ini sekarang berkembang cukup pesat dan sudah memiliki lahan seluas 40 hektare.

Pembinaan oleh CD RAPP ini dimulai sejak 2013, ketika pihaknya memperoleh bantuan bibit, pupuk dan alat pertanian. Pada 2017, RAPP kembali menambah bantuan bibit untuk mengerek produktivitas hasil jeruk asli Kampar ini. Hal ini dikarenakan, Lilit dan 15 orang anggotanya menunjukkan perkembangan produksi limau yang kian hari semakin baik.

Baca Juga: Dukung Ketahanan Pangan,BRI Hadir di Tengah Petani Jeruk di Malang

“Tahun 2018, tanaman kami kembali terserang penyakit, tapi RAPP tidak lepas tangan. Kami diberi pelatihan cara pengendalian hama dan penyakit tanaman Jeruk. Ini sangat membantu jadi kami terhindari dari kerugian. Tahun lalu, Alhamdulillah saya berhasil panen sebanyak 5 ton dengan keuntungan mencapai Rp50 juta,” terangnya.

Lilit pun bersyukur menjadi salah satu mitra bina program CD RAPP. Selain meningkatkan perekonomian keluarga, ia juga mampu menunaikan ibadah Umroh ke Mekkah.

Senada dengan Lilik, petani lainnya, Mardelis, 43, juga merasakan manfaat pembinaan dari program CD RAPP. “Biasanya kami panen 2 kali setahun. 1 kali panen bisa 2 hingga 3 ton limau. Untuk keuntungan sendiri bisa mencapai Rp10 juta hingga Rp15 juta,” tuturnya.

Saat ini, Mardelis memiliki lahan seluas satu hektare. Ia menanam sebanyak 350 batang limau manis. Namun, tidak semua batang berhasil panen karena ada hal-hal yang tidak bisa dihindari, seperti banjir dan gangguan binatang.

Selain bantuan bibit dan pelatihan, petani juga diberi pendampingan pengolahan lahan, kesempatan studi banding dan akses untuk bertemu dengan berbagai pihak, seperti pemerintah dan pelaku usaha lainnya. Kini, mereka telah menguasai pasar jeruk di wilayah Kabupaten Kampar, Kuantan Singingi dan Pelalawan.

Manajer CD RAPP, BR Binahidra Logiardi menjelaskan program ini sebagai bentuk kolaborasi dan dukungan terhadap pemerintah dalam hal ketahanan pangan. Melalui Program One Village One Commodity (OVOC) di mana desa tersebut menjadi komoditas unggulan, RAPP membantu para petani untuk bisa meningkatkan kualitas hidup mereka dari segi ekonomi.

Program OVOC budidaya Limau Manis Kampar ini juga sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, khususnya nomor 1, 2 dan 4.

"Melalui program agribisnis ini diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperoleh hak setara mengakses sumber ekonomi, serta meningkatkan akses terhadap pendidikan," tutupnya.

Sebagai informasi, sejak tahun 1980-an, Desa Teluk Paman Timur di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau telah menjadi sentra produksi jeruk. Namun sayangnya, produksi buah kaya vitamin C ini sempat lesu akibat diserang penyakit Huanglongbing atau CVPD dan busuk akar. Kemudian sejak akhir tahun 2008, para petani setempat memulai kembali bertani jeruk dan ingin mengembalikan kejayaannya. (RO/OL-10)

BERITA TERKAIT