04 September 2020, 05:47 WIB

Konsumsi Masyarakat Belum Naik Selama Kasus Covid-19 Tinggi


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

EKONOM dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menuturkan sedianya pemerintah telah banyak mengeluarkan kebijakan untuk mengungkit perekonomian di semester II 2020 dengan mengupayakan peningkatan konsumsi masyarakat. Ragam bantuan sosial diberikan hingga teranyar ialah bantuan subsidi upah kepada pekerja berpendapatan di bawah Rp5 juta.

"Hanya saja, peningkatan konsumsi ini memang belum akan terdorong akan berada di level positif selama kasus covid-19 masih tinggi," ujar Yusuf saat dihubungi, Kamis (3/9).

Baca juga: Sawit Jadi Komoditas Strategis

Meningkatnya kasus covid-19 di Tanah Air menurutnya menjadi pengganjal utama pemulihan ekonomi nasional. Utamanya, kata Yusuf, di golongan menengah atas yang lebih memilih untuk menahan konsumsi dan menyimpan uangnya karena ketidakpastian yang timbul dari pandemi.

Padahal masyarakat menengah ke atas mendistribusikan tingkat konsumsi domestik hingga 40%. Dengan tertahannya konsumsi di golongan ini, maka kecepatan pemulihan ekonomi akan berjalan lambat. Sebab, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak heran, Yusuf bilang, bila pemerintah kembali mengoreksi pertumbuhan ekonomi nasional 2020 di kisaran -1,1% hingga 0,2% yang sebelumnya diprediksi tumbuh di rentang -0,4% hingga 2,3%. Itu disebabkan pertumbuhan ekonomi di triwulan II yang minus 5,32% dan tanda pemulihan di Juli dan Agustus tidak menentu.

Perevisian proyeksi itu sebelumnya disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Rabu (2/9). "Kemenkeu memproyeksi pada 2020 pertumbuhan -1,1% sampai tumbuh positif 0,2%, lower end menunjukkan kuartal III mungkin negative growth," ujarnya.

Senada, Yusuf menilai pertumbuhan ekonomi di triwulan III dan IV masih berada dalam zona negatif meski membaik dibanding triwulan II 2020.

"Angkanya membaik, namun masih akan berada di level negatif. Adapun prediksi kami pertumbuhan ekonomi di kuartal III akan berada dilevel -2% sampai -4% sementara di kuartal IV akan berada di level -1,5% sampai -3%," pungkas dia. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT