04 September 2020, 06:20 WIB

Bela Negara di Jagat Maya


AT/Bay/Ant/H-2 | Humaniora

BELA negara tidak hanya penting di masa revolusi kemerdekaan, tetapi juga masa kini. Generasi muda bisa memanfaatkan teknologi media untuk memperkuat perekonomian, mempererat persatuan bangsa, mendorong literasi media, mencegah berita hoaks, dan menjaga Pancasila dari rongrongan ideologi transnasional.

Hal itu ditegaskan oleh Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi saat pengenalan kampus mahasiswa baru Sekolah Tinggi Multi Media MMTC Yogyakarta, Kamis (3/9).  “Maksimalkan media sosial untuk bela negara,” cetusnya.

Sebagai negara dengan jumlah pengguna internet terbesar kelima di dunia, imbuhnya, Indonesia mestinya tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga memanfaatkannya sebagai media untuk membela negara.

“Generasi muda memiliki peran penting sebagai aktor penggerak sejarah, terlebih Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi dunia berkat bonus demografi,” terang dia.

Hal senada juga diutarakan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy kepada para mahasiswa baru Universitas Abdurrab Pekanbaru melalui video confe­rence, Kamis (3/9). “Mahasiswa ialah ujung tombak dalam upaya membela negara,” katanya.

Menurutnya, pendidikan bela negara di lingkungan kampus juga bisa membentengi mahasiswa agar tidak mudah terpengaruh oleh radikalisme yang dapat mengancam keutuhan NKRI. “Caranya dengan melatih kepemimpinan, baik mandiri maupun berkelompok.”

Bela negara di kampus menjadi polemik setelah mencuatnya wacana untuk mewajibkannya. Dalam Rapat Kerja Komisi I DPR, Rabu (2/9), Kementerian Pertahanan tengah intens berkomunikasi dan mempersiapkan program bela negara dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (AT/Bay/Ant/H-2)

BERITA TERKAIT