04 September 2020, 02:10 WIB

Jerman Temukan Bukti Kuat Navalny Diracuni


Faustinus Nua | Internasional

PEMERINTAH Jerman mengumumkan bahwa hasil tes untuk sampel yang diambil dari pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny, menunjukkan keberadaan racun saraf era Soviet, yakni novichok.

Juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, mengatakan, pada Rabu (2/9) bahwa tes toksologi sampel darah dari Navalny yang dilakukan di laboratorium militer Jerman menunjukkan bukti tegas pemimpin oposisi Rusia itu diracuni dengan zat novichok.

Tes dilakukan oleh tentara Jerman setelah berkonsultasi dengan rumah sakit Charite Berlin, tempat Navalny dirawat. “Merupakan peristiwa yang mengejutkan bahwa Alexei Navalny menjadi korban serangan racun saraf kimia di Rusia,” kata Seibert.

Seperti diketahui, racun yang sama pernah digunakan untuk meracuni mantan matamata Rusia Sergei Skripal dan putrinya di Inggris. Zat kimia itu menghambat kolinesterase, bagian dari kelompok zat yang awalnya diidentifi kasi oleh dokter di Charite.

Seibert menambahkan bahwa pemerintah Jerman akan menginformasi ke mitranya di Uni Eropa dan NATO terkait hasil tes itu.

“Ini akan membahas tanggapan bersama yang sesuai dengan para mitra sehubungan dengan tanggapan Rusia,” ungkapnya.

Sekutu Navalny di Rusia berkeras dia sengaja diracuni oleh otoritas negara, tuduhan yang ditolak Kremlin. Sementara itu, para dokter Rusia yang merawat Navalny di Siberia juga telah berulang kali membantah kesimpulan rumah sakit Jerman tersebut.


Pemimpin dunia mengutuk

Wakil Menteri Luar Negeri Polandia, Marcin Przydacz, Rabu (2/8), mengutarakan pandangan bahwa kasus Alexei Navalny diracun harus dilakukan penyelidikan internasional.

Navalny ialah pemimpin oposisi Rusia yang diracun dalam sebuah perjalanan domestik dengan pesawat terbang. Kondisinya  sekarang masih kritis.

“Posisi Polandia jelas. Kami percaya bahwa penjelasan tentang kasus dan hukuman bagi yang bersalah diperlukan. Kami menyerukan penyelidikan internasional,” kata Przydacs mengutip PAP.

Beberapa pemimpin negara di dunia dengan keras mengutuk tindakan keji itu. Uni Eropa mengutuk tindakan itu pada hari yang sama dan meminta Rusia untuk menyelidiki secara menyeluruh upaya pembunuhan dan membawa mereka yang bertanggung jawab ke pengadilan.

“Penggunaan senjata kimia dalam keadaan apa pun sama sekali tidak dapat diterima dan melanggar hukum internasional,” kata Perwakilan Tinggi urusan Luar Negeri Uni Eropa, Josep Borrell.

Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat, John Ullyot, mengatakan Amerika Serikat sangat terganggu dengan hasil tes yang memperlihatkan Navalny diracun dan menganggap tindakan tersebut sangat tercela.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Yves Le Drian, mengutuk keras penggunaan racun. Navalny, 44, ialah seorang politikus dan penyelidik korupsi yang merupakan pengkritik Presiden Rusia Vladimir Putin. 

Dia jatuh sakit dalam penerbangan kembali ke Moskow dari Siberiapada 20 Agustus dan dibawa ke rumah sakit di Kota Omsk, Siberia, setelah pesawat melakukan pendaratan darurat. Dia kemudian dipindahkan ke rumah sakit Charite Berlin, yang minggu lalu dokter mengatakan ada indikasi bahwa dia telah diracuni. (AP/I-1)
 

BERITA TERKAIT