03 September 2020, 21:26 WIB

Satgas PEN : Banpres Produktif Sudah Salurkan Rp7 Triliun


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

SATUAN Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional (Satgas PEN) menyebut pemerintah telah menyalurkan bantuan presiden (banpres) produktif sebesar Rp7 triliun.

Ketua Satgas PEN Budi Gunadi Sadikin menuturkan, banpres tersebut menyasar sektor pelaku usaha mikro. Daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) banpres tersebut dianggarkan Rp22 triliun dengan target 9,1 juta pelaku usaha mikro.

"Realisasi saat ini sudah mencapai 31,79%. Dalam dua minggu sejak diluncurkan, program ini terserap sekitar Rp7 triliun," kata Budi dalam keterangannya, Jakarta, Kamis (3/9).

Sasaran penerima manfaat ditargetkan mencapai 12 juta pelaku usaha mikro. Hingga 2 September, pemerintah telah menyalurkan bantuan presiden (banpres) produktif kepada 2,9 juta pelaku usaha mikro.

Baca juga : Penyaluran Subsidi Gaji Terhambat Rekening Tidak Aktif

Selain itu, Budi juga menyebut ada program lain yakni Program Subsidi Bunga UMKM, anggaran yang disediakan sebesar Rp35 triliun. Tetapi realisasinya baru tercapai Rp3 triliun atau persentasenya 7,20%. Namun dana yang sudah tersalurkan itu sudah menjangkau 7,8 juta UMKM dengan kredit tersalurkan mencapai Rp317 triliun.

"Kami menyadari mungkin anggaran yang dialokasikan cukup besar. Makanya kami akan menyesuaikan kembali besarannya dan mengalihkan sebagian anggaran untuk program-program produktif lainnya yang berhubungan UMKM," jelas Budi.

Budi menjelaskan hingga akhir tahun, anggaran sebesar Rp695 triliun untuk penanganan covid-19 ditargetkan dapat terserap ke dalam 6 program Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN).

Keenamnya ialah program bidang Kesehatan, Insentif Usaha, Perlindungan Sosial, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Program Kementerian Lembaga (K/L) dan Pemda, serta Pembiayaan Korporasi. Untuk 4 program terakhir menjadi tanggung jawab Satgas PEN dengan anggaran yang dialokasikan sekitar Rp400 triliun dengan realisasi per September ini mendekati Rp200 triliun. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT