03 September 2020, 20:27 WIB

Pengusaha Tak Berani Berspekulasi dengan Kredit Modal Kerja


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MENGAMBIL kredit modal dalam kondisi perekonomian yang sulit akibat pandemi Covid-19 saat ini akan menambah penambahan beban usaha jangka pendek. Pelaku usaha tidak akan aktif mengambil kredit bila tidak yakin akan ada kelancaran cashflow dalam jangka pendek yang bisa membantu memenuhi kewajiban kredit tersebut.

"Kalau spekulasi cashflow-nya nanti meleset dan perusahaan tidak dapat membayar kewajiban, credit rating perusahaan akan memburuk. Akibatnya bisa terjadi masalah finansial baru dan juga backfire kepada profil kesehatan usaha dan valuasi perusahaan bila perusahaan mau mencari sumber modal lain, misalnya dengan merger atau corporate actions lain," jelas Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, Kamis (3/9).

Terkait kredit modal kerja dalam kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN), Shinta mengatakan, kredit yang sudah jalan hanya kredit modal kerja untuk UMKM yang umumnya memiliki tingkat literasi finansial yang tidak memadai untuk memenuhi persyaratan-persyaratan administrasi untuk permintaan kredit.

Sehingga umumnya UMKM sangat tergantung pada bantuan pihak bank untuk mengurus pemenuhan persyaratan tersebut. Sedangkan korporasi menengah-besar belum memperoleh bantuan kredit selain restruktrurisasi berdasarkan POJK 11 Tahun 2020.

"Karena itu kami harap mekanisme pencairannya bisa lebih gencar lagi disosialisasikan ke UMKM dan prosesnya disederhanakan agar menjadi lebih lancar. Pada saat yang sama, stimulus lain dan pengendalian covid-19 juga harus memberikan output yang positif agar kepercayaan konsumsi masyarakat (setidaknya di level domestik) akan meningkat dan memberikan kepercayaan juga bagi pelaku usaha, khususnya skala UMKM, untuk mengambil kredit modal kerja," kata Shinta.

Untuk konsumsi industri jangka pendek, Apindo memproyeksikan akan ada peningkatan konsumsi industri menjelang akhir tahun (kuartal ke IV/2020). Alasannya berasal dari dorongan peningkatan belanja pemerintah dan stimulus-stimulus yang harus direalisasikan dari APBN sebelum tutup tahun. Ini akan menjadi pendorong konsumsi yang lebih signifikan bila dibandingkan beberapa bulan terakhir. (R-1)

BERITA TERKAIT