03 September 2020, 08:55 WIB

Penyuluh Lampung Sambut Antusias KostraTani


Eva Pardiana | Nusantara

PENGEMBANGAN Gerakan Komando Strategis Pembangunan Pertanian (KostraTani) untuk pemberdayaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Provinsi Lampung disambut antusias oleh para penyuluh pertanian, fungsional BPP dan petani serta para pemangku kepentingan sektor pertanian di Lampung.

Ditandai kehadiran Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi di BPP Abung Semuli dan BPP Abung Timur, Rabu (2/9) di Kabupaten Lampung Utara (Lampura). Kedua BPP diluncurkan Kementerian Pertanian RI sebagai role model BPP KostraTani di Lampura.

Koordinator Penyuluh BPP Abung Semuli, Sriyati menyambut antusias Gerakan KostraTani seraya menegaskan dukungan pemerintah kabupaten dan provinsi ke sektor pertanian cukup baik.

"Dukungan pemerintah daerah ke ke penyuluh, petani dan kegiatan pertanian cukup baik. Kegiatan BPP pun selalu sejalan dengan pemerintah kabupaten," kata Sriyati.

Kendati begitu, dia berharap kerjasama pemerintah daerah dengan Kementan melalui KostraTani dapat ditingkatkan. "Terlebih gerakan Kostratani sangat positif. Kita sebagai penyuluh terbantu sehingga makin semangat untuk melaksanakan tugas-tugas."

Manfaat Kostratani juga dirasakan Zuhrifah, anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Cahaya Sejahtera, khususnya mendukung peningkatan produksi singkong yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan pokok selain beras. "Singkong bisa diolah jadi tiwul."

Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa sejarah membuktikan kebangkitan sektor pertanian dimulai dari kebangkitan petani dan penyuluh. Contohnya adalah pada 1984 ketika Indonesia diakui dunia berhasil mencapai swasembada pangan.

"Saat itu yang menjadi penyuluh adalah orang-orang pintar, makanya banyak penyuluh jadi camat hingga  kepala dinas dan lainnya," katanya didampingi Kabid Penyelenggaraan Penyuluhan - Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan BPPSDMP) Joko Samiyono.

Dalam kesempatan itu, Dedi Nursyamsi menyatakan pangan sangat penting untuk menjaga keutuhan bangsa, seraya mengingatkan instruksi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) agar petani dan penyuluh memaksimalkan Kostratani.

"Kalau kita sepakat NKRI harga mati, berarti pangan juga harga mati. Satu satunya yang bisa menghasilkan pangan adalah pertanian, maka pertanian juga harga mati," katanya menyemangati penyuluh BPP Abung Timur.

Dedi Nursyamsi menyebut pelaku utama dalam pertanian adalah petani dan penyuluh maka mereka adalah pejuang pangan, menjadi garda terdepan.  Gerakan pembangunan pertanian harus dimulai dari petani dan penyuluh di kampung, desa hingga kecamatan melalui Kostratani.

"Kehadiran Kostratani harus dimaksimalkan meningkatkan produksi pertanian, karena di Kostratani petani bisa mendapat data dan informasi, konsultasi, juga belajar," katanya.

Koordinator BPP Abung Timur, Sudarno mengakui bahwa pemerintah pusat dan daerah sangat mendukung BPP Abung Timur, yang memiliki luas wilayah 10.447 hektar terbagi untuk lahan sawah 3.763 hektar dan 6.684 bukan sawah.

"Pemerintah beri bantuan dan mendukung pembinaan. Dari dinas teknis juga kita dapat perhatian. Tapi harapan saya sebagai pimpinan BPP, kita juga meminta pemerintah mendukung dan membiayai operasional kegiatan di BPP," harapnya.

Menurut Sudarno, BPP Abung Timur didukung 12 penyuluh mengawal dan mendampingi 12 desa binaan, 232 kelompok tani (Poktan) dan 12 Gapoktan. (OL-13)

Baca Juga: Kurangi Impor, Pemerintah Dorong Budidaya Bawang Putih

BERITA TERKAIT