03 September 2020, 01:45 WIB

Penyiksa di Rezim Khmer Merah Kamboja Meninggal pada Usia 77 Tahun


MI | Internasional

SEORANG mantan guru sekolah yang menjadi penyiksa utama bagi rezim genosida Kamboja Khmer Merah, yang menyebabkan kematian sekitar 15.000 orang, meninggal di usia 77 tahun, Rabu (2/9).

Kaing Guek Eav, yang lebih dikenal dengan nama samarannya ‘Duch’, pernah menjabat sebagai kepala penjara Tuol Sleng yang terkenal. Dia dihukum karena kejahatan kemanusiaan oleh pengadilan kejahatan perang yang didukung PBB karena perannya dalam rezim ‘Killing Fields’.

Lahir pada 1942, mantan guru matematika itu menjadi interogator utama Khmer Merah ketika rezim ultra-Maois berkuasa dari tahun 1975-1979. Duch mengawasi penyiksaan ribuan pria, wanita, dan anak-anak di lingkungan sekolah menengah yang diubah menjadi pusat penahanan, mengekstraksi pengakuan palsu dari para korbannya, dan mengirim mereka ke kematian di pinggiran ibu kota Phnom Penh.

Setelah Khmer Merah jatuh dari kekuasaan, ia mempertahankan pos dalam gerakan komunis saat memerangi pasukan yang didukung Vietnam. Penjaga penjara itu beralih ke agama Kristen di tahun-tahun terakhirnya. 

Dia bekerja untuk sebuah badan bantuan di Kamboja barat dengan nama palsu pada saat penangkapannya pada 1999 ketika banyak yang berasumsi Duch sudah lama mati.

Duch ialah anggota pertama Khmer Merah yang menghadapi pengadilan di depan pengadilan kejahatan perang di Kamboja dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada 2012.

“(Kematiannya) pengingat bahwa keadilan ialah proses yang panjang dan sulit,” kata Youk Chhang, Direktur Pusat Dokumentasi Kamboja, yang melakukan penelitian tentang rezim Khmer Merah.

“Mungkin itu bisa membawa kepuasan bagi yang hidup dan yang jatuh sekarang bisa beristirahat dengan damai,” kata Youk kepada AFP.


Tonggak keadilan

Kesaksian Duch di pengadil an berfungsi sebagai tonggak penting bagi jutaan orang Kamboja yang menderita di bawah rezim brutal, yang menewaskan hingga dua juta orang selama periode singkat empat tahun.

Dia telah menyimpan arsip besar, foto, pengakuan, dan dokumen lain yang kemudian digunakan jaksa PBB untuk melacak beberapa bulan terakhir dari kehidupan ribuan narapidana. 

Ini mengungkapkan aspek-aspek dari cara kerja rahasia rezim, seperti pembersihan berulang kali yang didorong oleh paranoia dari kepemimpinan bahwa musuh-musuhnya ada dalam barisannya.

Duch menjadi kader pada tahun 1970, “Untuk mengubah masyarakat, menentang pemerintah, dan menentang  penyiksaan,” katanya selama persidangan, dan membantu mengawasi serangkaian penjara di hutan.

Setelah rezim merebut kekuasaan pada tahun 1975, ia dilantik sebagai kepala Tuol Sleng yang disebut sebagai S-21 oleh Khmer Merah. Dia berkata anak laki-laki tak berpendidikan dapat dengan mudah diindoktrinasi karena mereka seperti selembar kertas kosong. (AFP/I-1)

BERITA TERKAIT