02 September 2020, 13:15 WIB

Waspada, Sindrom Happy Hypoxia yang Dapat Menyerang OTG Covid-19


Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora

PASIEN yang terinfeksi covid-19 biasanya mengalami beberapa gejala seperti batuk, sesak nafas, demam, hingga kehilangan indra penciuman dan perasa. Namun, dalam beberapa waktu terakhir ditemukan gejala baru yakni happy hypoxia syndrome pada pasien covid-19 di Tanah Air.

Pakar Penyakit Dalam Spesialis Paru-Paru (Internis Pulmonologist) FKKMK UGM Sumardi mengatakan happy hypoxia syndrome merupakan kondisi seseorang dengan kadar oksigen rendah dalam tubuh, tetapi terlihat seperti orang normal. Penurunan kadar oksigen dalam kondisi ini tidak membuat orang kesulitan bernapas ataupun tidak merasa terengah-engah, padahal normalnya, kadar oksigen dalam tubuh seseorang adalah di atas 95%.

Baca juga: Mendag Perintahkan Pesantren Laporkan Kasus Covid-19

“Pada orang yang mengalami happy hypoxia ini tampak normal atau biasa-biasa saja. Karenanya sering dinamakan silent hypoxia sebab terjadi perlahan, lama-lama lemas dan tidak sadar,” jelas Sumardi dalam pernyataan tertulis, Rabu (2/9).

Sumardi menuturkan, hypoxia terjadi akibat adanya penjedalan di saluran pembuluh darah. Hal tersebut dikarenakan peradangan atau inflamasi pada pembuluh-pembuluh darah, terutama di paru-paru akibat kadar oksigen yang terus berkurang dalam tubuh.

Pria yang juga merupakan Kepala Divisi Pulmonologi dan Penyakit Kritis RSUP Dr Sardjito ini mengatakan, jika happy hypoxia tidak segera ditangani maka akan mengancam nyawa pasien Covid-19. Penjendalan tidak hanya akan terjadi di paru-paru, tetapi bisa menyerang organ-organ lainnya seperti ginjal dan otak yang bisa menyebabkan kematian.

Keberadaan happy hypoxia bisa diketahui pada pasien covid-19 yang mendapatkan perawatan di rumah sakit. Pemantauan kadar oksigen dalam darah dilakukan dengan menggunakan alat pulse oximeter.

Sedangkan pada pasien Covid-19 yang tidak menunjukkan gejala, terutama yang melakukan isolasi mandiri di rumah diimbau untuk selalu memonitor kondisi tubuh. Pasien diminta waspada apabila muncul gejala tubuh tiba-tiba lemas padahal tidak melakukan aktivitas yang mengakibatkan pengurangan energi maupun berolahraga.

“Kalau tiba-tiba merasakan lemas, tetapi makan dan minum masih biasa harus segera lapor ke rumah sakit. Lemas ini karena oksigen di organ berkurang jadi harus cepat ke rumah sakit agar bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat,” tegasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT