02 September 2020, 04:55 WIB

Geliat Transportasi masih Terbatas


(Mir/E-1) | Ekonomi

BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah penumpang angkutan udara domestik yang diberangkatkan pada Juli 2020 sebanyak 1,5 juta orang atau naik 135,74% jika dibandingkan dengan Juni 2020. Adapun jumlah penumpang tujuan luar negeri (internasional) naik sekitar 57,67% menjadi 25.700 orang.

Namun, secara kumulatif (Januari–Juli 2020), jumlah penumpang domestik turun 54,92% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni menjadi
19,7 juta orang. Sementara itu, jumlah penumpang internasional sebanyak 3,4 juta orang (turun 67,28%).

“Sektor transportasi pada Juli 2020 ini bergeliat setelah adanya relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB), tetapi belum normal sepenuhnya,” kata Kepala BPS Suhariyanto
di Jakarta, kemarin.

Jumlah penumpang angkutan laut dalam negeri, jelas Suhariyanto, yang diberangkatkan pada Juli 2020 tercatat 836.600 orang atau naik 29,63% jika dibandingkan dengan Juni 2020.

Jumlah barang yang diangkut naik sebanyak 7,38% menjadi 24,3 juta ton. Selama Januari–Juli 2020, jumlah penumpang mencapai 8,4 juta orang, turun 37,55% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Sementara itu, jumlah barang yang diangkut naik 0,10% atau mencapai 168,2 juta ton. Kemudian, jumlah penumpang kereta api yang berangkat pada Juli 2020 sebanyak 12,24 juta orang, atau naik 31,73% jika dibandingkan dengan Juni 2020. Sama dengan jumlah penumpang, jumlah barang yang diangkut kereta api juga mengalami peningkatan
19,98% menjadi 3,9 juta ton.

“Secara kumulatif selama Januari–Juli 2020, jumlah penumpang kereta api mencapai 122,8 juta orang atau turun 50,46% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Hal yang sama untuk jumlah barang yang diangkut kereta api, turun 4,32% menjadi 27,5 juta ton,” tandasnya. Pemulihan juga belum menampakkan
hasil yang memuaskan di sektor pariwisata. Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Indonesia pada Juli 2020 bila dibandingkan dengan
tahun lalu masih terjadi penurunan yang sangat signifi kan.

“Untuk secara year on year, kontraksi masih sangat dalam 89,12%. Tampak untuk pariwisata akan butuh waktu yang lama untuk recovery kembali ke kondisi normal,” ungkap Suhariyanto. (Mir/E-1)

BERITA TERKAIT