02 September 2020, 03:37 WIB

BNPB Ingatkan Potensi Kekeringan


Wan/PO/RF/DY/X-10 | Humaniora

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan potensi kekeringan yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Kewaspadaan ini mengacu pada meteorologis Dasarian III Agustus. Dasarian merupakan rentang waktu selama 10 hari, yakni Dasarian III terhitung 21 Agustus hingga akhir Agustus.

“Berdasarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian III Agustus, ada wilayah yang perlu mewaspadai kekeringan, seperti Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, ketika dihubungi kemarin.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, Nusa Tenggara Timur, telah mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis di daerah itu, kemarin.

Peringatan dini dikeluarkan karena saat ini seratus persen dari total zona musim (ZOM) sudah berada dalam periode musim kemarau.

“Potensi dampak yang timbul terkait kekeringan meteorologis pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, ketersediaan air
tanah yang menyebabkan kelangkaan air bersih, dan meningkatkanya potensi kemudahan terhadinya kebakaran,” ujar Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris S Geru, kemarin. Sementara itu, sejumlah daerah sudah mengantisipasi dampak kekeringan ini, terutama terhadap kebakaran lahan dan hutan (karhutla).

Polda Kepulauan Bangka Belitung (Babel), misalnya, memantau karhutla dari udara dengan helikopter. Ini dilakukan selain untuk antisipasi karhutla, juga untuk mempercepat tim memadamkan api di titik yang terjadi karthula.

Kapolda Babel Irjen Anang Syarif Hidayat mengatakan berbagai upaya akan dilakukan untuk mengantisipasi karthula seperti pendirian posko di seluruh polres.

“Kita mendirikan posko yang dilengkapi dengan call center untuk pengaduan dari masyarakat jika ada karhutla,” ujar Anang, kemarin.

Selain itu, untuk titik-ti tik yang sulit dijangkau, pihaknya mengerahkan patroli rutin setiap hari untuk memantau karhutla.

‘‘Setiap hari, dengan helicopter, kita melakukan patroli untuk memantau ada atau tidak titik api,” ujarnya.

Kalimantan Selatan memaksimalkan peran Masyarakat Peduli Api (MPA) untuk mengatasi ancaman karhutla.

“Peran MPA yang ada di tiap desa, khususnya desa-desa yang rawan karhutla, kita maksimalkan untuk mengantisipasi peristiwa kebakaran sedini mungkin,” tutur Plt Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Fatimatuzzahra, kemarin. (Wan/PO/RF/DY/X-10)

BERITA TERKAIT