02 September 2020, 02:10 WIB

Pandemi Covid-19 Ancam Kehidupan Perempuan


MI | Humaniora

LAPORAN yang diterima Komnas Perempuan memperlihatkan terjadi peningkatan kasus kekerasan selama pandemi covid-19. 

Selama Januari-Mei 2020 terdapat 892 laporan, sedangkan tahun lalu, dalam setahun terdapat 1.419 laporan. “(Kasus) yang paling banyak adalah masih kekerasan KDRT dan relasi personal, yaitu sekitar hampir 70% yang lapor ke Komnas Perempuan,” ungkap Komisioner Komnas Perempuan Alimatul Qibtiyah dalam webinar bertajuk Fenomena Kekerasan dalam Rumah Tangga di Masa Pandemi Covid-19,
kemarin.

Lebih lanjut Alimatul menjelaskan, bentuk kekerasan pada ranah KDRT dan relasi personal paling banyak ialah kekerasan psikis.

“Ini sama dengan hasil survei komnas bahwa yang paling tinggi ialah kekerasan psikis. Mungkin karena kecapekan mendidik anak, lalu kemudian tiba-tiba menjadi guru semua mata pelajaran, sementara pemahaman di rumah masih, pokoknya pengasuhan dan rumah tangga itu tanggung jawab perempuan,” terangnya.

Alimatul menambahkan, kekerasan seksual berbasis siber meningkat tajam selama Januari-Mei 2020 dengan jumlah 354 kasus, padahal tahun sebelumnya hanya 281 kasus dalam setahun. 

Oleh sebab itu, dia berharap agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) segera disahkan. Sementara itu, LSM Girls Not Brides melaporkan, puluhan ribu anak perempuan di Asia dipaksa menikah karena keluarganya jatuh miskin akibat pandemi.  Sebelumnya, jumlah pernikahan anak telah menurun melalui berbagai upaya edukasi. Namun, perbaikan ini terkikis lantaran banyak orangtua terkena PHK akibat pandemi sehingga terimpit secara ekonomi.

“Semua keuntungan yang kami peroleh dalam dekade terakhir benar-benar akan menderita,” kata Kepala Keterlibatan Asia di LSM Girls Not Brides, Shipra Jha.  PBB memperkirakan 12 juta anak perempuan menikah setiap tahun sebelum usia 18 tahun di seluruh dunia, dan jumlah tersebut akan bertambah akibat pandemi. (Aiw/Van/H-3)

BERITA TERKAIT