01 September 2020, 20:15 WIB

NTT Hadapi Ancaman Krisis Air


Palce Amalo | Nusantara

BMKG Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (1/9) mengeluarkan peringatan kekeringan meteorologis di daerah itu. Peringatan dini dikeluarkan karena saat ini seratus persen dari total zona musim (ZOM) sudah berada dalam periode musim kemarau.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris S Geru mengatakan sesuai monitoring hari tanpa hujan (HTH) yang dikeluarkan stasiun klimatologi per 31 Agustus 2020, NTT mengalami deret hari kering menengah 11-20 hingga ekstrem panjang lebih dari 60 hari.

Selain itu, beberapa daerah diperkirakan akan mengalami curah hujan rendah atau kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen.

"Potensi dampak yang timbul terkait kekeringan meteorologis pada sektor pertanian dengan sistem tadah hujan, ketersediaan air tanah yang menyebabkan kelangkaan air bersih, dan meningkatkanya potensi kemudahan teerhadinya kebakaran," katanya.

Menurutnya, ada dua kecamatan yang berstatus waspada kekeringan karena memiliki peluang curah hujan kurang dari 20 milimeter yakni Magepanda di Kabupaten Sikka dan Pahunga Lodu di Sumba Timur. Selain itu, 20 kecamatan berstatus siaga kekeringan dan 39 kecamatan berstatus awas kekeringan.

Di tempat berbeda, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang, Agung Sudiono Abadi menyebutkan titik panas (hotspot) yang terdeteksi pada Selasa terdapat di 14 titik di empat kabupaten.

Belasan titik panas itu terdiri dari sembilan titik di Kabupaten Kupang, satu titik masing-masing di Lembata dan Timor Tengah Utara, dan tiga titik di Sumba Timur.

Terkait titik panas tersebut, Stasiun Meteorologi El Tari juga mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kejadian bencana alam lainnya. (R-1)

BERITA TERKAIT