01 September 2020, 12:53 WIB

Alumni Kairo dan Mekah Pengaruhi Nasionalisme Indonesia


Puji Santoso | Nusantara

PERKEMBANGAN sejarah Indonesia yang dimulai pada awal-awal abad ke-19 hingga masa kemerdekaan dinilai banyak dipengaruhi oleh gerakan para ulama yang mengenyam ilmu di Kairo (Mesir) dan Mekah (Arab Saudi). Sehingga keberadaan para ilmuwan sekaligus ulama pada masa itu banyak mempengaruhi nasionalisme Indonesia.

Demikian benang merah yang dapat ditarik dalam Seminar Daring (virtual) bertema Relasi Kairo dan Haji dalam Jejaring Nasionalisme Indonesia, yang diadakan berkaitan dengan Dies Natalis ke 55 Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

Seminar secara virtual ini dan diikuti oleh 143 peserta dan menghadirkan tiga pembicara utama masing-masing adalah Prof. Dr. M. Dien Madjid dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Martin van Bruinessen (ahli sejarah Islam Indonesia dari Ultrecht University, Netherland) dan Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A. (Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta).

Dien Madjid dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta mengatakan, pada masa awal abad ke-19 dan awal abad 20, pelaksanaan haji yang dilakukan orang-orang Indonesia di Mekah telah menjadi momentum dan usaha menggalang sekaligus memupuk nasionalisme para warga Indonesia saat itu.

"Berhaji di masa kolonial Belanda, seyogyanya adalah perjalanan yang mengandung banyak maksud. Selain beribadah, haji juga digunakan untuk memperdalam ilmu agama dan bertukar pikiran dengan para jemaah haji lainnya tentang keadaan negeri-negeri mereka. Oleh sebab itu, banyak di antara orang yang pergi haji, memutuskan bermukim di Mekah. Sehingga di sana terdapat perkampungan khusus orang nusantara yang penduduknya dikenal sebagai Ashab al-Jawiyyin," ungkap Dien.

Di abad 19, sudah ada ulama Nusantara yang berkiprah di Mekah seperti Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Mahfuz al-Termasi dan Syekh Abdul Samad al-Falimbani.

"Mereka adalah guru dari ulama pembaharu Indonesia seperti K.H. Hashim Asyari dan K.H. Ahmad Dahlan. Kesempatan berjumpa dengan para haji dari negara yang dijajah Eropa digunakan untuk bertukar siasat menghadapi kolonialisme di masing-masing negara. Inilah yang menyebabkan mengapa haji begitu diwaspadai kolonial sepulangnya mereka dari Tanah Suci Mekah," kata Dien.

Sementara itu, Prof. Azyumardi Azra mengatakan Islam Indonesia dengan Islam di Timur Tengah, Asia Selatan dan kawasan dunia Islam yang sudah terbentuk sejak akhir abad 16. Menurut Azyumardi, lulusan Timur Tengah sejak akhir abad 19 memiliki peran penting dalam pembentukan dan pertumbuhan nasionalisme Indonesia.

Baca juga: Pandemi Picu Nasionalisme, Modal Pulihkan Pariwisata dan Ekonomi

Hal tersebut antara lain karena pengaruh modernisme Islam yang tengah bangkit di Timur Tengah. Dia menyebutkan ulama Indonesia alumni Timur Tengah seperti Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi telah melakukan kritik terhadap esotorisme Islam (ibadah yang cenderung dianggap sebagai bidah).

"Munculnya kritisisme yang tajam terhadap tarekat dari Nawawi al-Bantani dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi sesungguhnya mencerminkan terjadinya transisi wacana intelektual dan gerakan Islam sedikitnya sejak perempatan abad 19. Transisi itu jelas sangat dipengaruhi perubahan-perubahan wacana intelektualisme dan gerakan Islam di Timur Tengah secara keseluruhan. Meski peran alumni Kairo cukup sentral dalam mendorong dan menyebarkan gagasan-gagasan modernisme Islam dan nasionalisme Melayu," kata Azyumardi.

Sementara itu, Prof Martin van Bruinessen mengatakan dalam masa kolonial Belanda di Indonesia awal abad ke-19, sesungguhnya ajaran Islam yang dibawa para ulama alumni Kairo dan Mekah sudah bergerak bersama dengan misi perdagangan melalui bahasa Melayu yang mempersatukan bangsa Indonesia.

Martin mengatakan kolonial Belanda ikut mempengaruhi munculnya persatuan dan nasionalisme Indonesia.

"Kolonial Belanda melalui jajahannya telah mempersatukan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. jaringan kolonial dan jaringan perdagangan Islam dan Melayu turut mempersatukan Indonesia," tuturnya.

Menurut Martin, warga Indonesia abad ke-18 dan 19 yang menunaikan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di Mekah dan di Kairo.

"Mekah dan Kairo dianggap sebagai tempat belajar. Namun dua tempat itu juga dianggap sebagai jendela ilmu pengetahuan sehingga orang-orang Indonesia seperti Syech Ahmad Katib ikut memberikan pengaruh dalam membentuk nasionalisme di Indonesia," tukas Martin.(OL-5)

BERITA TERKAIT