01 September 2020, 09:55 WIB

AS Memveto Resolusi PBB Soal Nasib Pejuang Jihad


Basuki Eka Purnama | Internasional

AMERIKA Serikat (AS) kembali mengisolasi diri dalam diplomasi internasional setelah pada Senin (31/8) memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai nasib ribuan pejuang jihad asing yang ditahan di Suriah dan Irak.

Ke-14 anggota DK PBB lainnya mendukung resolusi yang disusun Indonesia itu. Resolusi itu mendorong negara untuk mendakwa, merehabilitasi, dan kemudian mengintegrasikan warga negara asing yang bergabung dengan kelompok teror di negara mereka.

Namun, AS menolak mendukung resolusi itu karena tidak ada kewajiban bagi negara-negara dunia untuk menerima warga mereka yang bergabung dengan Al-Qaeda dan Islamic State (IS) di Timur Tengah.

Veto yang dilakukan AS itu menggarisbawahi perbedaan antara Washington dan sekutu mereka di Eropa serta negara Arab yang selama ini menolak menerima warga mereka yang bergabung dengan IS yang telah dihancurkan pasukan Sekutu, setahun lalu.

Baca juga: Biden Salahkan Trump Sebabkan Negara tidak Aman

Ribuan pejuang asing dan keluarga mereka tertahan di penjara di Suriah dan Irak setelah negara asal mereka menolak menerima mereka kembali.

Washington yang menuntut adanya kata repatriasi dalam draft resolusi itu mendesak agar negara-negara menerima kembali warga mereka yang ditahan di Suriah dan Irak.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis dan Belgia, mengadopsi pendekatan kasus per kasus untuk merepatriasi anak atau bahkan istri pejuang jihad di Timur Tengah.

"Resolusi yang disusun Indonesia itu, yang disebut bertujuan memperkuat aksi internasional di bidang kontraterorisme, lebih buruk ketimbang tidak ada resolusi sama sekali," ujar Duta Besar AS untk PBB Kelly Craft.

"Resolusi ini gagal mencantumkan referensi untu langkah pertama yang penting, repatriasi para pejuang jihad itu ke negara asal mereka," lanjutnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT