31 August 2020, 19:30 WIB

Ini Strategi Pertamina Tutup Kerugian Rp11 Triliun


M. Iqbal Al Machmudi | Ekonomi

PADA semester I 2020, PT Pertamina (Persero) mencatatkan kerugian sebesar Rp11 triliun. Perusahaan pelat merah pun melakukan berbagai upaya untuk menutup kerugian, seperti memangkas belanja modal (capex) dan belanja operasional (opex).

"Beberapa langkah strategis terus dilakukan. Sejak Maret, kita sudah efisiensi capex dan opex. Kita sudah melakukan pemotongan yang membuat kita survive," ungkap Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR RI, Senin (31/8).

Lebih lanjut, Emma menyebut ada sembilan kebijakan agar Pertamina tidak semakin merugi. Pertama, memotong opex hingga 30%, atau setara dengan US$3 miliar. Kemudian, efisiensi capex sebesar 23%, atau senilai US$1,7 miliar. Sehingga, jumlahnya setara dengan US$4,7 miliar atau sekitar Rp70 triliun.

Baca juga: Meski Rugi, Rasio Kerugian terhadap Aset Pertamina Terkecil Kedua

Kedua, menjaga produksi minyak dan gas untuk menekan impor. Berikut, optimalisasi program Pertamina loyalty dan diskon untuk meningkatkan pendapatan. Renegosiasi kontrak dengan mata uang asing untuk dibayar dengan rupiah juga dilakukan.

"Kelima, efisiensi konsumsi energi dengan mengganti penggunaan refinery fuel dengan natural gas/PLN. Menurunkan integrated port time untuk menurunkan beban pokok penjualan, transformasi digital untuk SPBU dan centeralised procurement," papar Emma.

Selanjutnya, inventory build up dengan manajemen time to buy pada saat harga minyak rendah. Kemudian, melakukan mitigasi risiko selisih kurs dan meningkatkan kinerja cash flow.

Baca juga: Pertamina Rugi Rp11 Triliun, Pengamat Minta Ahok Dipecat

Diketahui, Pertamina mengalami kerugian Rp11 triliun sepanjang semester I 2020 akibat pandemi covid-19, yang menekan demand dan pelemahan rupiah. Setidaknya, ada tiga faktor pukulan akibat pandemi. Pertama, menghantam kinerja penjualan perseroan yang sangat signifikan. Dia mencontohkan penjualan BBM turun hingga 26%.

"Ini mungkin tidak terjadi pada masa krisis terdahulu. Pada masa pandemi ini signifikan sekali. Demand sangat terdampak, khususnya pada kuartal II 2020," ungkapnya.

Adapun persoalan kedua yakni fluktuasi rupiah yang berdampak pada kinerja keuangan Pertamina, terutama dalam aspek penjualan dan pembelian. "Terakhir, pelemahan ICP hingga level terendah, yakni US$21 per barel. Ini berdampak pada kinerja perusahaan, yang mempertahankan produksi dan lifting migas. Meskipun margin hulu tertekan," tandas Emma.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT