31 August 2020, 13:02 WIB

Pemerintah Dorong UMKM Kelautan Masuk E-commerce


Hilda Julaika | Ekonomi

KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sektor kelautan dan perikanan memperluas pemasaran produknya melalui platform e-commerce.

Saat ini, tercatat terdapat 250 pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan yang bergabung di Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) dan mendapatkan pembinaan, baik melalui pelatihan, pemagangan, dan sertifikasi kompetensi sumber daya manusia (SDM) sektor Kelautan dan Perikanan.

Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja mengatakan UMKM memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi raksasa. Ia mengungkapkan merek-merek besar seperti Gucci, Dior, dan Rolex ternyata diproduksi secara bersama oleh puluhan industri kecil yang membuat berbagai komponen berbeda.

“Meskipun begitu, produk-produk ini di-branding dengan bagus dan standar kualitas yang baik sehingga menjadi sebuah produk bertaraf internasional dan masuk ke pasar global,” ujar Syarief melalui keterangan resmi, Senin (31/8).

Sjarief mendorong agar UMKM sektor kelautan dan perikanan untuk dapat turut berkembang secara lebih luas di pasar. Ia pun membagikan 4 (empat) langkah yang perlu dilakukan agar produk-produk UMKM kelautan dan perikanan dapat bersaing.

Pertama, memastikan kualitas produk yang dihasilkan. Dalam budidaya misalnya, satu ekor ikan nila yang diproduksi ukurannya harus pas memenuhi satu piring. Seluruh tubuh ikan pun tidak boleh bercacat, baik di bagian badan, sirip, maupun ekornya. Selain itu, jumlah produksinya harus rapi. Misalnya, pelaku usaha harus konsisten memproduksi 1 ton/minggu.

Sjarief juga menekankan agar harga produk pun tidak berubah-ubah setiap minggunya sehingga membingungkan masyarakat.

“Enggak ada nila 1 kilo minggu ini Rp30 ribu, minggu depan berubah jadi Rp35 ribu, minggu depannya lagi berubah jadi Rp25 ribu. Enggak ada cerita,” ucapnya.

Untuk itu, ia mengajak P2MKP untuk membuat standardisasi dan pelatihan untuk seluruh anggota dan binaannya.

Kedua, jaminan kontinyuitas. Sjarief menekankan bahwa UMKM harus mengetahui secara persis target market-nya dan berapa banyak produk yang mereka butuhkan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini dapat diketahui melalui riset pasar.

“Misalnya target kita adalah sebuah restoran ikan bakar. Kita harus tahu persis dia butuh berapa ikan setiap minggunya sehingga kita bisa tentukan berapa banyak produksi ikan kita yang harus dikeluarkan,” jelasnya.

Langkah ketiga ialah jaringan bisnis. Sjarief mengatakan bahwa UMKM harus memelihara seluruh mitra bisnisnya dari hulu hingga hilir. Pasalnya, UMKM tidak dapat bekerja sendirian.

“Misalnya kita adalah pengusaha kerang maka kita harus turut membina nelayan kerang yang menjadi pemasok kita. Jika tidak, bisnis kita bisa berhenti,” ujarnya.

Tak ketinggalan pada langkah keempat ia menekankan pentingya kerapihan manajemen usaha. Menurut Syarief, UMKM harus mulai menyusun manajemen keuangan yang baik. Cash flow usaha harus dihitung rapi dari hulu ke hilir. Pembayaran pun harus dilakukan tepat waktu.

Selain itu, ia mengungkapkan bahwa after sales yang diberikan para pelaku usaha juga harus baik. Produk harus dikemas dan diantar dengan baik hingga ke tangan konsumen. (E-3)

BERITA TERKAIT