31 August 2020, 05:20 WIB

Tambang Bawah Tanah Jadi Masa Depan Freeport Indonesia


Dro/S2-25 | Ekonomi

SEJAK akuisisi pada 2018 oleh pemerintah Indonesia melalui PT Inalum yang meningkatkan kepemilikan Indonesia menjadi 51%, PT Freeport Indonesia (PTFI) telah melakukan sejumlah transformasi guna menyongsong masa depan.

PTFI kini menatap cakrawala baru dengan membangun proyek ambisius penambangan bawah tanah setelah menyelesaikan penambangan terbuka di lokasi tambang Grasberg. Tak main-main, setidaknya terdapat lima cadangan bawah tanah yang dapat dikerjakan PTFI ke depan.

Salah satu cadangan tambang bawah tanah yang besar milik PTFI ialah Grasberg Block Cave (GBC) yang merupakan cadangan tambang persis di bawah open pit Grasberg. Selain itu, ada blok Deep Mill Level Zone (DMLZ) yang sudah mulai dikembangkan sejak 2016 dan diproyeksikan baru akan selesai produksi pada 2040 mendatang.

Ada pula cadangan tambang bawah tanah lain yang belum tergarap, yakni Kucing Liar yang baru akan mulai digarap pada 2024 dan memiliki masa produksi hingga 2053.

Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengungkapkan, tidak benar anggapan bahwa cadangan tambang Freeport telah habis dikeruk sebelum divestasi dilakukan.

“Ini merupakan dua tambang bawah tanah raksasa yang sudah kita mulai kembangkan dari 2004. Yakni tambang GBC dan DMLZ yang merupakan dua tambang bawah tanah terbesar di dunia dan ini yang akan menghasilkan revenue yang mencapai US$6 miliar-US$7 miliar per tahun,” terang Tony dalam wawancara dalam program The Nation Metro TV, baru-baru ini.

Ia menerangkan pascadivestasi saham PTFI, tidak ada perubahan fundamental dari bagaimana perusahaan beroperasi. Justru yang terjadi ialah sinergi yang saling menguntungkan.

Tony menerangkan, sebelum divestasi, kontribusi PTFI ke negara sebesar 60% berupa pajak, royalti, dan dividen. Namun, angka tersebut kini telah meningkat menjadi lebih dari 70%.

Hal itu pun memberikan dampak langsung, khususnya bagi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten di Papua tempat PTFI beroperasi yang menikmati kenaikan tinggi pada pendapatan daerah. Terutama setelah adanya konversi dari kontrak karya ke izin usaha pertambangan khusus (IUPK).

Tony pun menyebut PTFI tetap memiliki komitmen tinggi untuk mengembangkan Papua dan masyarakatnya agar dapat menikmati hasil kekayaan alam mereka. Ia pun mencontohkan salah seorang anggota direksi saat ini serta sembilan vice president dijabat orang asli Papua. Komposisi pekerja asli Papua di PTFI pun telah mencapai 40%.

“Kita ingin menunjukkan bahwa kami di sini merupakan bagian dari Papua. Kita sudah lebih dari 53 tahun menjadi bagian dari Papua dan komitmen kita untuk membangun Papua terus berlanjut ke depan,” terang Tony.

Tambang bawah tanah

Dalam kesempatan itu, Tony juga mengungkapkan masa depan PTFI ada di tambang bawah tanah. Untuk itu, saat ini pihaknya secara serius melakukan penambangan di bawah tanah. Meski tidak dapat dimungkiri dampaknya membuat penurunan produksi selama masa transisi.

Namun, semuanya masih sesuai dengan rencana produksi. Meski produksi pada 2019 dan 2020 rendah karena transisi ke tambang bawah tanah, pada 2021 dipastikan sudah mulai meningkat.

Misalnya tahun ini PTFI akan produksi sekitar 700 juta pound tembaga dan sekitar 800 ribu ounce emas. Sedangkan pada 2021 nanti, PTFI sudah bisa produksi 1,4 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas dan pada 2022 tingkat produksinya 100% kembali normal hingga 2041.

“Sehingga bila dengan kapasitas produksi penuh itu dengan harga sekarang kita bisa peroleh revenue US$6 miliar-US$7 miliar per tahun untuk PTFI, untuk dividen ke Inalum sekitar US$1 miliar per tahun dimulai dari 2022,” terang Tony.

Ia menegaskan masa depan PTFI masih cerah karena masih memiliki cadangan mineral yang sangat besar. Bahkan, menurutnya, cadang an tersebut belum akan habis hingga kontrak izin penambangan PTFI berakhir di 2041.

Seperti tambang bawah tanah Kucing Liar yang diproyeksikan akan mulai pada 2024 dan baru akan selesai pada 2053 tidak akan tergarap sepenuhnya karena batasan masa kontrak penambangan yang selesai pada 2041. Terkecuali pemerintah kembali memberikan izin lagi untuk penambangan lebih dari 2041.

Selain tambang Kucing Liar, Tony pun menyebut pihaknya telah menemukan cadangan baru di bawah tambang GBC dan DMLZ. Ia memprediksi terdapat 2 miliar ton sumber daya, dan bila dilakukan eksplorasi lanjutan kemungkinan sedikitnya akan ada 1 miliar ton cadangan sumber daya yang dapat ditambang hingga 15 tahun ke depan.

“Kalau kita diberikan izin untuk melanjutkan penambangan setelah 2041 tentu kita akan melakukan eksplorasi lanjutan,” tuturnya.

Potensi smelter

Saat ini, selain mengerjakan pembangunan tambang bawah tanah, PTFI juga masih meneruskan pembangunan pabrik peleburan konsentrat tembaga atau yang dikenal dengan sebutan smelter. Tony meyakini bila smelter tersebut selesai akan memberikan dampak yang positif bagi PTFI.

Ia memperkirakan dengan selesainya fasilitas smelter tersebut PTFI akan dapat memproduksi sekitar 600 ribu ton katoda tembaga. Selain itu, smelter nantinya juga memiliki pengolahan precious re-ȴQHU\ untuk pengolahan emas dan perak.

Tony memproyeksikan market untuk tembaga dan emas masih cerah, terlepas dari kondisi ekonomi global saat ini akibat pandemi covid-19. Ia melihat dari permintaan pasar akan tembaga masih tinggi.

Salah satu alasan karena semakin umumnya penggunaan mobil listrik di masa depan yang sangat membutuhkan banyak bahan baku tembaga. Begitu juga permintaan tembaga dari energi terbarukan seperti pembangkit tenaga angin dan surya yang akan membutuhkan banyak tembaga.

Begitu pula dengan produk emas yang semakin hari harganya se- makin tinggi, bahkan saat ini sudah mencapai US$2 ribu per ounce. Produk emas dipandang masih akan dibutuhkan di masa mendatang, hanya saja tidak dapat diprediksi bagaimana tingkat harganya.

“Akan tetapi rencana produksi kita kemungkinan akan dapat kita capai sesuai long term investment plan yang sudah kita sepakati dengan Inalum hingga 2041,” pungkas Tony.

Masa depan Papua

Divestasi kepemilikan saham PTFI oleh pemerintah Indonesia pun menjadi harapan bagi masyarakat asli Papua untuk dapat lebih banyak berkarya di PTFI. Kini semakin banyak putra asli daerah yang menduduki posisi yang strategis di PTFI dan secara komposisi pekerja pun sudah mencapai 40% putra daerah.

Salah satunya Kepala Teknisi Pengembangan Terowongan Michael Geddy yang menyebutkan sudah banyak rekannya di tingkat manajer yang ditempati warga asli Papua. Bahkan, menurutnya, ada beberapa orang asli Papua yang menduduki jabatan yang lebih tinggi.

“Harapannya dengan adanya divestasi ini banyak perubahan yang terjadi untuk saudara-saudara kita di Papua menjadi lebih diperhatikan. Ada banyak kesempatan berkarier untuk bisa belajar bagi saudara-saudara di Papua, apalagi tambang itu ada di Papua,” terang Michael.

Senada dengan itu, Henky Rumbino yang merupakan Kepala Kesehatan dan Keselamatan Kerja PTFI yang sekaligus salah satu dari 9 Vice President warga asli Papua membenarkan besarnya kesempatan yang diberikan PTFI kepada putra daerah.

Henky menyebut kesempatan kerja pasti diberikan dan tidak berbeda dengan karyawan lainnya. Namun, semuanya kembali kepada individu masing-masing.

“Mau belajar atau tidak, mau untuk mengambil kesempatan itu untuk mengembangkan diri dan menjadi yang terbaik atau tidak itu kembali ke pribadi dan diri sendiri,” tutur Henky. (Dro/S2-25)

BERITA TERKAIT