31 August 2020, 06:10 WIB

Tambah PCR Perkuat Penanganan


Nurul Hidayah | Nusantara

PANDEMI belum berlalu. Tes usap wajib dilakukan untuk melacak sekaligus memutus rantai penularan covid-19.

Di Jawa Barat, Gubernur Ridwan Kamil mendorong tes usap dilakukan lebih cepat di seluruh kabupaten dan kota. Karena itu, kemarin, ia membagikan perangkat tes usap polymerase chain reaction (PCR) portabel ke 27 kabupaten dan kota.

Penyerahan secara simbolis dilakukan di Balai Kota Cirebon. Emil menyerahkannya kepada Wali Kota Nasrudin Azis.

“Dengan PCR portabel seharga Rp950 juta per unit ini, kami berharap bisa meningkatkan rasio tes usap di Jawa Barat. Alat ini bisa memeriksa 100 sampel per hari,” tuturnya.

Jika merunut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tes usap harus dilakukan terhadap 1% dari total penduduk. Jabar memiliki 5 juta penduduk sehingga tes usap kudu dilakukan terhadap 500 ribu warga.

“Tes PCR di Jabar baru mencapai 200 ribuan. Kami targetkan setiap minggu bisa 50 ribuan tes usap baru,” tandas mantan Wali Kota Bandung itu.

Banyumas, Jawa Tengah, juga menggiatkan tes usap. Targetnya seperti diungkapkan Wakil Bupati Sadewo Tri Lastiono, ada 200-300 sampel yang diperiksa.

“Sampai hari ini, kami sudah melakukan 8.000 lebih tes usap. Dengan adanya laboratorium baru milik Universitas Jenderal Soedirman, kami berharap tes usap bisa lebih banyak lagi,” tandasnya.

Aktif pelacakan

Wali Kota Padang, Sumatra Barat, Mahyeldi Ansharullah, juga tidak keder ketika mengetahui jumlah pasien baru di wilayahnya terus meningkat. “Itu terjadi karena petugas aktif melakukan tracing dan testing,” tandasnya.

Menurut dia, mereka yang dinyatakan positif ialah orang-orang yang punya kontak erat dengan kasus positif sebelumnya. Mereka ditemukan dari tracing yang dilakukan petugas.

Dalam beberapa pekan terakhir, lonjakan kasus positif terjadi di Sumatra Barat. Kota Padang menyumbang yang terbesar. Kemarin, misalnya, dari 89 terkonfirmasi positif, Kota Padang menyumbangkan 43 kasus.

Kasus baru, sebut Mahyeldi, berasal dari lingkaran perkantoran dan rumah sakit. “Mengutip Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Unand dokter Andani, kecepatan mengetahui dan mende­teksi kasus baru itu bagus. Mereka bisa cepat diisolasi dan dikarantina sehingga mereka tidak berkeliaran menularkan virus ke orang lain.”

Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao memilih untuk menjaga warganya dari kasus impor covid-19 dengan memberlakukan tes cepat bagi semua penumpang kapal dan pesawat udara yang baru datang. Tes cepat tanpa dipungut biaya itu diberlakukan di tiga pintu masuk, yakni Bandara DC Saudale, Pelabuhan Pantai Baru, dan Pelabuhan Ba’a.

Ketua Pelaksana Gugus Tugas Covid-19 Jonas M Selly mengatakan, setelah tes, setiap penumpang dapat melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan tanpa menunggu hasil pemeriksaan. Di NTT, dari 22 kabupaten dan kota, zona merah terdapat di Manggarai, Manggarai Barat, Nagekeo, Ende, Alor, Kabupaten dan Kota Kupang.

Di sisi lain, angka kesembuh­an di Jawa Timur terus meningkat. Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyatakan tingkat keterhunian kamar perawatan  di wilayahnya menurun. “Pada Juli mencapai 80%. Bahkan, di sejumlah rumah sakit, dari ruang isolasi 100% terisi, kini hanya merawat 44,8%.”

Ia menyatakan angka kesembuhan di daerahnya menduduki persentase tertinggi di Jawa, mencapai 78,85%. “Saat ini pasien positif covid-19 yang aktif hanya tersisa 14,13%.” (AD/LD/YH/PO/FL/N-3)

BERITA TERKAIT