31 August 2020, 00:10 WIB

Penanganan Karhutla Sekarang Lebih Baik


Ferdian Ananda Majni | Humaniora

PENANGANAN kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat ini sudah jauh lebih baik dan lengkap jika dibandingkan dengan periode 1997-1998.

Apresiasi tersebut dikemukakan mantan Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja setelah melihat fakta dan realitas di lapangan. 

“Dan di masa pandemi ini juga didukung penerapan protokol kesehatan. Karena didukung, kemarau basah, jadi kebakaran berkurang,” kata Sarwono dalam Editor Meeting The Society of Indonesian Environmental Journalists yang membahas Ancaman Karhutla di Tengah Pandemi Covid-19 di Jakarta.

Menurut Sarwono, terkait karhutla besar yang terjadi pada 1997-1998, koordinasi antarlembaga tidak jalan. Bukan itu saja, kementerian terkait tidak paham tugasnya dalam penanggulangan karhutla.

“Kita mengecek laporan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Meteorologi dan Geofi sika (BMG) yang memang memprediksi akan terjadinya kemarau panjang. Namun, tidak menduga jika akan ada pembukaan lahan dengan cara membakar besar-besaran,” ujarnya.

Sarwono mengakui kebakaran terjadi dan belakangan dia mengetahui waktu itu membakar lahan di saat kemarau dianjurkan Dirjen Perkebunan untuk mengurangi biaya pembukaan lahan. 

“Para elite politik dan pejabat di pusat pada saat itu menyalahkan peladang berpindah,” ujar Sarwono. 

Hingga akhirnya, dihubungilah Lapan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan BMG yang ternyata keadaan lembaga tersebut telantar. Badan yang memprakirakan cuaca itu ada di bawah Kementerian Perhubungan. Namun, saat itu menteri terkait tidak tahu BMKG merupakan bagian dari mereka.

Lantas, dikabarilah sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan dan organisasi masyarakat. Namun, yang merespons kala itu hanya Telapak, Wanadri, dan Gerakan Pemuda Anshor yang sukarela membantu mengatasi karhutla.

Pelajaran yang dapat diambil, menurut Sarwono, ialah soal exersice crisis management. “Kalau perlu, aturan buruk dilanggar saja dan itu yang kami lakukan di Bapedal dan Kementerian Lingkungan Hidup. Kita harus ambil risiko untuk melakukan hal benar. Ketika kita bersikap, akan datang orang-orang yang berpandangan sama membantu kita,” pungkasnya.


Pemanfaatan TMC

Deputi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena mengatakan pihaknya kini melakukan mitigasi dan upaya permanen penanggulangan karhutla di Indonesia.

“Atas arahan presiden, kita harus melakukan mitigasi dan upaya permanen karena disimpulkan bahwa karhutla terjadi setiap tahun sehingga telah didefi nisikan sebagai bencana permanen dan harus dilakukan mitigasinya sebelum itu terjadi,” kata Yudi, kemarin.

Dia menjelaskan efektivitas TMC telah dibuktikan mampu mengendalikan karhutla. Bahkan, hasil upaya TMC sejak 13-31 Mei 2020, curah hujan di Provinsi Riau meningkat menjadi 157 mm yang berarti lebih tinggi 22,4% dari prediksi curah hujan BMKG dan juga lebih tinggi 36% dari rata-rata curah hujan di Provinsi Riau periode 2009-2019. (Ant/H-1)
 

BERITA TERKAIT