30 August 2020, 15:56 WIB

Kasus DBD di Bangka Barat Tahun ini Meningkat


Rendy Ferdiansyah | Nusantara

BERDASARKAN Pantauan Petugas Dinas Kesehatan dan Puskesmas se-kabupaten Bangka Barat (Babar) Provinsi Bangka Belitung (Babel) kasus DBD pertanggal 31 Juli 2020 tembus 139 kasus.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Surveilans (P3MS) Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka Barat (Babar), Binadiawan mengatakan jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2019 hanya 131 kasus. Sedangkan puncak kasus terjadi pada tahun 2018 yakni 301 kasus.

"Puncaknya November, Desember, Januari, karena jentik itu ada pada genangan air jadi puncaknya itu pada musim hujan. Peningkatannya hampir 100 persen, padahal belum berjalan sampai setahun tapi yang paling tinggi dalam sejarah kita ada pada tahun 2018," katanya. Minggu (30/8).

Ia menyebutkan, hingga 31 Juli 2020 kasus DBD paling banyak di Kecamatan Kelapa sebanyak 39 kasus dan Kecamatan Muntok sebanyak 38 kasus.

"Kita lihat sampai sekarang saja kasus kita sudah segini belum sampai akhir. 2018 adalah puncaknya kemudian 2019 sempat turun dan sekarang sudah meningkat,"ujarnya.

Baca juga : Pasien Positif Covid-19 di Kota Sukabumi Bertambah 4 Orang

Peningkatan kasus DBD menurutnya, tidak hanya terjadi karena faktor cuaca. Melainkan juga perilaku manusia dan lingkungan.

"upaya kita ingin menggerakkan masyarakat melalui puskesmas,karena apapun yang kita lakukan tanpa peran serta masyarakat akan tidak maksimal dalam pencegahan DBD," ungkap dia.

Untuk mengentaskan masalah DBD, perlu kerjasama dari berbagai pihak, tidak hanya mengandalkan petugas kesehatan. Melainkan juga kesadaran masyara

‘’Kalau mereka dengan mandiri mengubur, menguras, dan menutup terus tidur pakai kelambu DBD itu tidak akan muncul. Yang terpenting masyarakat harus sadar akan 3M+ itu untuk dijalankan agar dapat mencegah jentik nyamuk berkembangbiak," jelasnya.

Dirinya juga mewanti-wanti agar masayarakat memperhatikan jangan sampai jentik nyamuk berada di genangan air. Ia berharap, kedepannya dalam satu rumah ada satu juru pemantau jentik (jumantik) yang merupakan anggota keluarga untuk mengawasi agar tidak muncul jentik nyamuk.

Saat ini masyarakat masih menganggap foging itu solusi tingkat dewa, jadi kalau sudah ada foging selesai padahal foging itu hanya membunuh nyamuk dewasa sementara yang jentik berada di genangan air itu 3-4 hari lagi sudah jadi nyamuk lagi," ucap dia.(OL-2).

BERITA TERKAIT