30 August 2020, 06:45 WIB

Ribuan Orang Protes Antipembatasan Covid-19 di Berlin


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

RIBUAN orang melakukan aksi protes di ibu kota Jerman, Berlin, Sabtu (29/8). Massa marah atas aturan-aturan pembatasan yang diberlakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran covid-19.

Sekitar 38 ribu orang mengambil bagian dalam pawai yang dibagi menjadi dua kelompok utama.

Polisi memerintahkan satu kelompok di dekat Unter den Linden untuk membubarkan diri karena melanggar aturan keselamatan. Aparat menangkap 200 orang setelah terjadi aksi pelemparan batu dan botol.

Baca juga: Prancis Alami Peningkatan Eksponensial Kasus Covid-19

Kelompok kedua yang terdiri dari sekitar 30 ribu orang berunjuk rasa dengan damai di sebelah barat gerbang Brandenburg untuk mendengarkan pidato, antara lain dari keponakan Presiden John F Kennedy.

Meskipun Jerman sejauh ini belum melihat gelombang kasus yang memengaruhi beberapa bagian Eropa, tingkat infeksinya terus meningkat. Jumlah kasus baru mencapai angka tertinggi yang terakhir terlihat pada April.

Polisi mengeluarkan perintah bagi aksi demonstrasi di sekitar Unter den Linden, dekat Gerbang Brandenburg, untuk bubar sekitar tengah hari setelah peserta menolak menjaga jarak aman, kata pihak berwenang.

"Sayangnya, kami tidak punya pilihan lain," kata polisi Berlin di Twitter. "Semua tindakan yang diambil sejauh ini belum berhasil memenuhi persyaratan."

Para pengunjuk rasa berdesakan rapat di beberapa tempat dan duduk bersama di tanah pada satu titik.

Beberapa demonstran tetap berkumpul di sana pada sore hari dengan botol dan batu dilemparkan ke arah polisi.

Di antara 200 orang yang ditangkap adalah penulis masakan dan ahli teori konspirasi Attila Hildmann, yang berbicara kepada orang banyak melalui pengeras suara.

Kelompok utama lainnya yang terdiri dari sekitar 30 ribu orang di sebelah barat Gerbang Brandenburg menghormati aturan, kata Menteri Dalam Negeri Andreas Geisel.

Larangan awalnya diberlakukan saat protes pada Sabtu (29/8), tetapi pengadilan membatalkannya. Geisel mengatakan dia menyesali cara kekerasan berkembang tetapi menurutnya situasinya 'dapat diprediksi'.

Polisi Berlin mecicit sekitar pukul 22.40 waktu setempat bahwa operasi mereka telah berakhir, mengatakan telah ada protes damai oleh puluhan ribu tetapi petugas juga mengalami pelecehan verbal.

Siapa yang terlibat dalam protes Berlin?

Geisel mengatakan orang-orang yang memprotes di luar Kedutaan Besar Rusia di Unter den Linden adalah 'ekstremis sayap kanan' dan tujuh petugas polisi telah terluka.

Beberapa pengunjuk rasa kemudian menerobos penjagaan di gedung Reichstag dan dibubarkan oleh polisi menggunakan semprotan merica.

Situs berita Jerman Deutsche Welle melaporkan bendera dan kaos pendukung sayap kanan terlihat di antara kerumunan.

Demonstrasi di sebelah barat Gerbang di Victory Column diorganisasikan oleh gerakan Querdenken 711 yang berbasis di Stuttgart (atau Lateral Thinking 711). Grup ini memiliki lebih dari 16 ribu pengikut di Facebook dan sebagian besar berkomunikasi melalui layanan pesan terenkripsi Telegram.

Kelompok ini percaya peraturan pembatasan covid-19 melanggar hak-hak dasar dan kebebasan yang diabadikan dalam konstitusi Jerman dan ingin semuanya dicabut.

Kelompok itu sebelumnya mengadakan protes di Berlin pada 1 Agustus yang dijuluki 'hari kebebasan'. Ribuan orang bergabung, termasuk beberapa dari sayap kanan dan beberapa ahli teori konspirasi yang tidak percaya covid-19 ada.

Protes juga mendapat dukungan dari Robert F Kennedy Jr. Juru kampanye antivaksinasi, juga putra calon presiden dari Partai Demokrat AS Robert F Kennedy dan keponakan dari Presiden AS John F Kennedy yang terbunuh, berada di demonstrasi di Berlin.

Kennedy mengatakan kepada kerumunan di Victory Column, pamannya terkenal berbicara di Berlin pada 1963 untuk melawan totalitarianisme.

"Dan hari ini Berlin lagi-lagi menjadi garis depan melawan totalitarianisme," ujarnya sembari memperingatkan terkait pengawasan negara dan kekuatan jaringan telepon 5G.

Foto yang dibagikan secara daring juga menunjukkan bendera dan slogan yang terkait dengan teori konspirasi Qanon. Di antara klaim dan teori konspirasi mereka adalah mengatakan Presiden AS Donald Trump sedang melancarkan perang rahasia melawan para elite global rahasia pemuja setan dan paedofil, kalangan bisnis, dan media.

Peserta unjuk rasa juga termasuk keluarga dan anak-anak. Beberapa orang mengatakan mereka hanya ingin hak untuk protes.

Seorang demonstran, Stefan, seorang warga Berlin berusia 43 tahun, mengatakan kepada Agence France-Presse, "Saya bukan simpatisan sayap kanan yang ekstrem, saya di sini untuk membela kebebasan fundamental kita." (BBC/OL-1)

BERITA TERKAIT