30 August 2020, 04:00 WIB

Kekeringan Melanda Sejumlah Wilayah


Atalya Puspa | Nusantara

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia akan mengalami kekeringan meteorologis. Pun langkah antisipatif perlu dilakukan, seperti menghemat penggunaan air bersih serta mewaspadai kebakaran hutan, lahan, dan semak pada musim kemarau mendatang.

Demikian dikatakan Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal, kemarin. Menurutnya, pada dasarian III Agustus 2020, prakiraan curah hujan di bawah 20 mm dengan peluang lebih dari 70% terjadi di sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Kondisi serupa juga kemungkinan terjadi di sebagian kecil Bengkulu, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian kecil Maluku, serta sebagian kecil Papua. “Sejumlah daerah itu penting mengatisipasi guna mengatasi kekeringan. Misalnya, budi daya pertanian yang tidak membutuhkan banyak air. Paling penting menghemat air bersih” ujarnya.

Secara terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat Deni Ramdan membeberkan bencana kekeringan di wilayah Jabar mulai terjadi di Bogor, Indramayu, dan Cirebon.

Bahkan, sejak 2 Agustus lalu, Pemerintah Provinsi Jabar menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan. Hal itu lantaran adanya temuan kasus kekeringan di beberapa desa dan kecamatan.

“Dengan adanya status itu, kita artinya sudah menyiapkan alokasi anggaran dan ada lokasi yang sekarang mulai terdampak akan segera bergerak. Karena berdasarkan laporan yang masuk ke BPBD Provinsi Jabar, ada lima desa di Bogor telah mengalami kekeringan,” ujarnya.

Laporan kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terang dia, terjadi di Gunung Ciremai. Kasusnya pun dianggap masih dalam skala kecil dan berhasil ditangani petugas TNI, Polri, serta masyarakat setempat.

“Kekeringan yang terjadi biasanya di wilayah pantura, seperti di Indramayu, Karawang, Cirebon. Kalau di selatan ada sedikit di Bogor dan Tasikmalaya, tapi intensitasnya tak seluas di utara,” tukas Deni.

Krisis air

Kemarau panjang mengakibatkan hampir semua wilayah kecamatan di Kabupaten Sikka, NTT, mengalami kekeringan. BPBD Sikka kemudian mulai melakukan droping air untuk daerah-daerah yang kesulitan mendapatkan air bersih. “Kita telah mengerahkan semua tangki air milik pemerintah untuk mengantar air bersih ke rumah warga. Setiap hari kita droping air bersih,” kata Kepala BPBD Sikka Muhammad Daeng Bakir.

Selain itu, sambung dia, pihaknya juga telah menyiapkan surat pernyataan darurat bencana yang akan dikeluarkan Bupati Sikka dan membentuk tim penanganan bencana yang melibatkan dinas teknis.

Kondisi serupa juga dialami warga di 49 desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kepala Pelaksana BPBD Klaten Sip Anwar menuturkan sejauh ini baru tujuh desa saja yang menerima bantuan air bersih.

“Hingga Rabu (26/8), BPBD Klaten telah mengirim bantuan air bersih sebanyak 272 tangki, masing-masing berkapasitas 5.000 liter ke tujuh desa di Kecamatan Jatinom dan Kemalang.”

Senada dikemukakan Kepala BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Mikron Antariksa. Menurut dia, ada beberapa kecamatan di Pangkalpinang yang merupakan daerah rawan kekeringan kini mengalami krisis air bersih. Bahkan, dua dari tujuh kecamatan, yaitu Bukit Intan dan Girimaya, saat musim kemarau selalu dilanda masalah tersebut.

BPBD Babel juga rutin menyiapkan armada mobil tangki ataupun mobil damkar untuk membantu suplai air bersih kepada masyarakat di sana. “Hal ini disebabkan letak dua kecamatan itu lebih tinggi dari kecamatan lain di Babel sehingga sumur-sumur warga rentan mengalami kekeringan,” tutup Mikron. (AD/GL/JS/RF/J-2)

BERITA TERKAIT