30 August 2020, 01:45 WIB

Membawa Sajian Rumah ke Level Resto


Fetry Wuryasti | Weekend

LADA disebut juga merica atau sahang, sebuah tanaman yang menjadi bumbu masakan untuk memberikan rasa pedas, hangat, dan sedikit pahit. 

Di Indonesia, lada merupakan bumbu yang esensial untuk banyak masakan, mulai sup, soto, hingga rawon. Kekuatan rasa dari lada serta proses pengolahannya hingga menjadi bumbu rempah itulah yang menjadi inspirasi nama restoran Bubuk Lada oleh desainer Kursien Karzai bersama istrinya, Yeyen Meliyanti. 

Mereka menceritakan, keinginan membuka restoran datang sejak tiga tahun lalu. Situasi pandemi yang membuat sebagian besar masyarakat akhirnya terpaksa beraktivitas di rumah, membuat kegiatan masak di dapur menjadi semakin sering mereka lakukan.

“Jadi, ini memang konsepnya makanan kampung, makanan dapur kami, yang sehari-hari kami masak, juga terhidang di ruang makan keluarga saya. Nama Bubuk Lada menjadi pilihan nama untuk resto yang restoran keluarga bercita rasa Indonesia,” cerita Kursien pada saat opening di Jakarta, Selasa (18/8).

Memang semua lini bisnis sebenarnya sedang mengalami penurunan omzet akibat pandemi, tidak terkecuali usaha adibusana mereka. Namun, mereka meyakini roda ekonomi harus terus berputar, termasuk menjajal bisnis baru yang potensial.

Terletak di Jalan Moh Kahfi 1, Kav 123 B, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Yeyen menjabarkan jika target utama resto mereka ialah untuk memasok katering perusahaan-perusahaan, juga perhelatan fesyen yang ada di Indonesia, selain acara peragaan busana yang mereka adakan.

“Makanan bisa dikatakan tetap kebutuhan primer bagi siapa saja. Strategi marketing kami mulai dari layanan online bekerja sama dengan pesan makanan online, juga jangkauan katering untuk instansi-instansi atau departemen, seperti meeting BUMN, perbankan, dan juga bisa mensponspori event brand fesyen sendiri,” kata Yeyen.


Ramesan

Kekayaan kuliner Indonesia menjadi dasar untuk menu di restoran ini. Ini sekaligus menu favorit di keluarga mereka. Mereka menyajikan soto, sup, rawon, dengan topping yang bisa dipilih sesuai selera, seperti daging sapi, iga, buntut, dan ayam kampung.

Ada nasi krawu, nasi bogana, nasi daun jeruk, ayam goreng pasundan, mi godog Jawa, mi goreng Jawa, dan camilan rumahan pisang goreng tepung dengan bubuk kayu manis. Untuk minumnya, mereka menyediakan cendol aren susu segar, cincau aren susu segar, es buahmedan, jahe lemon madu, kencur lemon madu, serai lemon madu, dan lainnya.

Media Indonesia berkesempatan mencoba beberapa hidangan mereka, pertama ialah nasi bogana. Nasi bogana atau begana ialah hidangan nasi tradisional Tegal, Jawa Tengah. Biasanya dibungkus dalam daun pisang dan disajikan dengan berbagai lauk.

Bila makan di tempat, piring-piring Anda akan dilapisi alas lagi dengan daun pisang. Untuk tekstur nasinya bisa dikatakan cukup keras, mirip seperti tekstur nasi padang, tetapi lebih kering.

Untuk rasa, ramesan ala Tegal ini biasanya terdiri atas nasi putih, rasa muncul dari siraman lauk opor ataupun bumbu dendeng dan serundengnya. Namun, nasi bogana ala Bubuk Lada cenderung kering dan memiliki rasa gurih yang samar, seperti nasi lemak, tetapi gurih yang lebih ringan.

Seperti konsepnya, bogana ialah ramesan, maka makanan ini disajikan telur balado, tempe orek buncis cabai, teri kacang, kering kentang, daging suwir santan yang lembut, dan sambal. 

Yang membuatnya menggoda untuk disantap ialah sambal terasi mereka yang nendang kepedasannya, tetapi tidak menusuk bau terasinya. Seporsi nasi bogana seharga Rp40 ribu.

Selanjutnya ada nasi daun jeruk, yang menhadirkan aroma daun jeruk lengkap dengan rasa jauh lebih kuat dan gurih daripada nasi bogana. Tekstur nasinya pun lebih tanak dan lembut.

Nasi daun jeruk ini dihidangkan dengan pendamping yang hampir mirip dengan nasi bogana, yaitu telur balado, krecek ati ayam, dan sambal. Mungkin karena memang konsepnya ialah hidangan meja makan sehingga lauknya bisa dicampur-campur sesuai permintaan tamu.

Untuk nasi daun jeruk mix topping ini dihargai sebesar Rp40 ribu. Namun, bila memesan untuk nasinya saja, seharga Rp15 ribu per porsi. Untuk minuman, pasangan ini mengusung apa yang dikonsumsinya harus sehat. 

Mereka lebih memilih memakai susu segar dalam penyajian cendol daripada memakai minuman santan. Sesimpel namanya, cendol aren susu segar hanya berupa potongan cendol disajikan dalam gelas tinggi, disiram dengan susu segar, ditambahkan gula aren buatan sendiri, dan ini menjadi opsi bisa tidak dituangkan atau dipisah penyajiannya sesuai permintaan konsumen.

Namun, tanpa gula arennya pun, rasa manis yang tidak terlalu kuat dan sedikit gurih creamy dari susu sudah terasa di dalam minuman ini.

Segelas minuman ini seharga Rp25 ribu. Untuk camilan, rekomendasi yang mereka sajikan ialah pisang goreng cinnamon. Tampilannya berupa pisang kepok yang ditepungi dahulu sebelum di goreng, dipotong memanjang, dan disusun menyerupai kipas.

Daging pisang kepok yang manis sepat juga pulen, terjadi bersama taburan bubuk gula aren dan kayu manis, akan mampu kembali menetralkan lidah Anda dari berbagai rasa makanan utama yang kuat akan bumbu.

Bubuk Lada buka setiap hari, Senin-Jumat pukul 09.00-21.00 dan Sabtu-Minggu pukul 07.00-21.00 WIB, untuk menyediakan sarapan. (M-1)

BERITA TERKAIT